Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Muslim Amerika yang Memperjuangkan Hak-Hak Sipil

Saskia Rahma Nindita Putri , Jurnalis-Jum'at, 05 Juni 2020 |15:31 WIB
4 Muslim Amerika yang Memperjuangkan Hak-Hak Sipil
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
A
A
A

DARI Malcolm X hingga Keith Allison, Muslim kulit hitam yang berperan penting dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat luas. Terjadinya kerusuhan di Amerika Serikat (AS) yang dipicu meninggalnya George Floyd, seorang pria berdarah Afrika-Amerika, oleh seorang polisi berkulit putih di Minneapolis, membuat aktivis hak asasi berfokus kepada warga berkulit hitam.

Banyak kalangan muda di AS yang turun ke jalan untuk melakukan aksi protes, hingga terlibat bentrok dengan polisi yang menyemprotkan serbuk merica, peluru karet, serta memukul dengan tongkat.

Banyak sejarah yang menyebutkan Muslim Amerika berkulit hitam sering berada di garda terdepan dalam perang melawan ketidakadilan yang dialami oleh warga negara nonkulit putih di negara dengan ekonomi terbesar itu.

"Kami memiliki sejarah panjang yang terlibat dalam urusan kekerasan dengan kelompok-kelompok ekstremis seperti Ku Klux Klan," ujar Imam Mahdi Bray, direktur Nasional Aliansi Muslim Amerika dan aktivis hak-hak sipil seumur hidup, dikutip dari TRT World, Jumat (5/6/2020).

"Ketika mendengar kata terorisme, maka kebanyakan orang akan mengarah pada tragedi 9/11. Menurut saya, terorisme yang sebenarnya terjadi ialah pada 1956 ketika rumah kakek saya dibom oleh Klan," tambahnya.

Bray dan keluarganya tinggal di Virginia utara, sedangkan kakeknya Wright Grey Junior berkampanye untuk mendaftarkan pemilih kulit hitam dan bekerja sama dengan aktivis dan ikon terkenal Dr Martin Luther King Jr.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak kejadian tersebut, dan saat itu Amerika telah melihat presiden kulit hitam berkuasa, serta para senator, pengacara, dan wali kota. Namun nyatanya, kata Bray, diskriminasi terhadap orang kulit hitam tidak berubah.

"Apa yang terjadi di Amerik Serikat adalah apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Kami menderita, mendapatkan perilaku rasisme dan kekerasan. Apa yang terjadi pada George Floyd telah terjadi pada banyak pria kulit hitam Afrika-Amerika yang pada dasarnya mengalami kematian dan kekerasan mematikan oleh penegak hukum," ujarnya kepada TRT World dalam sebuah wawancara.

Bertahun-tahun lamanya, lanjut dia, banyak Muslim berkulit hitam terkemuka yang aktif dalam gerakan hak-hak sipil. Malcom X atau Muhammad Ali adalah di antaranya.

Memang beberapa dari mereka memiliki sejarah kontroversial dan masih sulit dikonfirmasi, apakah benar memeluk Islam, namun tetap saja keberanian mereka telah terbukti menjadi sumber inspirasi bagi kaum Muslimin.

Menukil dari laman TRT World, berikut tokoh-tokoh Muslim kulit hitam yang berjuang melawan rasisme.

1. Keith Ellison

Keith Ellison (56) merupakan seorang jaksa penuntut umum terkemuka di Minnesota, negara bagian tempat George Floyd terbunuh. Sebagai jaksa, ia memimpin penyelidikan terhadap petugas polisi dan telah berjanji untuk meminta pertanggung jawaban semua orang.

Sebagai seorang pengacara kasus kriminal, Ellison masuk Islam saat masih menjadi mahasiswa di usia 19 tahun ketika aktif menyoroti kebrutalan polisi terhadap warga kulit hitam.

Ellison memiliki pengalaman langsung tentang kebrutalan polisi, sesuatu yang mendorongnya untuk mengambil peran aktif dalam gerakan hak-hak sipil.

"Ketika masih berusia 4 tahun, ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya ketika pengangkut pasukan Pengawal Nasional melewati lingkungannya pada 1968, di tengah kerusuhan yang terjadi setelah pembunuhan Martin Luther King Jr. Ia menjadi dewasa pada era Coleman Young di kota itu, wali kota kulit hitam pertama," sebagaimana tertulis dalam majalah Mother Jones.

Pada 1989, Ellison membentuk kelompok yang disebut Koalisi untuk Akuntabilitas Polisi, kemudian menerbitkan buletin yang memerinci kebrutalan polisi. Selain itu, ia juga menjadi Muslim pertama yang terpilih untuk Kongres AS pada 2006, mengambil sumpahnya menggunakan kitab suci Alquran, sebuah langkah yang membuat marah beberapa politikus berkulit putih.

2. Marcus Garvey

Sebelumnya, Imam Mahdi Bray adalah seorang pastor. Ia masuk Islam pada pertengahan 1960, masa ketika orang kulit hitam Amerika Serikat mulai tertarik dengan transisi politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika, seperti di negara-negara seperti Aljazair yang memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Prancis pada 1962.

"Secara budaya, pemuda Hitam seperti saya sedang mengalami apa yang kami sebut gerakan identitas hitam dan jadi kami melihat ke arah Afrika dan kami melihat Islam adalah agama yang datang dari sana," jelasnya.

Terlebih, Pan-Afrikanisme sangat bergemuruh pada saat itu dan pemberontakan melawan Apartheid di Afrika Selatan menjadi seruan bagi orang Afrika-Amerika.

"Perjuangan untuk martabat di tempat-tempat seperti Afrika Selatan sangat terkait dengan pengalaman Afrika-Amerika yang mengalami sistem Aparthied mereka sendiri," ujar Bray.

Namun, beberapa dekade sebelum para mualaf mengambil inspirasi dari Afrika, ada Marcus Garvey, pendiri Universal Negro Improvement Association (UNIA), yang memulai kampanye kembali ke Afrika.

Garvey yang lahir di Jamaika kemudian pindah ke Amerik Serikat di usia 28 tahun, tepatnya pada 1917. Hal ini bertepatan dengan peristiwa kerusuhan berbasis rasisme di St Louis Timur, peristiwa yang menciptakan lingkungan ketakutan rasial di kalangan orang kulit hitam.

"Dengan bantuan murid-murid seperti ayah saya, Garvey, dari markas besarnya di Harlem City, New York, mengibarkan bendera kemurnian ras kulit hitam dan mendesak massa Negro untuk kembali ke tanah air leluhur mereka di Afrika –suatu alasan yang membuat Garvey menjadi pria paling kontroversial di dunia," tulis Malcom X di halaman pertama bab pertama autobiografinya.

Sebagai pendukung kuat nasionalisme kulit hitam dan kemandirian orang kulit hitam, Garvey menghadapi penganiayaan di tangan FBI dalam kasus dugaan penipuan melalui surat yang berkaitan dengan promosi Black Steamship Line (BSL).

Ajaran "agama hitam" dari Garvey selaras dengan banyak Muslim dan memengaruhi para pemimpin Nation of Islam.

Meskipun ia secara resmi seorang Katolik, keengganannya untuk secara terbuka mengungkapkan keyakinannya tetap menjadi misteri, tulis Profesor Samory Rashid dari Indiana State University, dalam bukunya 'Black Muslims in the US'.

"Namun demikian, moto UNIA tentang ‘Satu Tuhan, satu tujuan, satu takdir’ memiliki daya tarik khusus bagi umat Islam yang mungkin telah mengisi jajarannya dalam jumlah ribuan,” tulis Rashid.

Dia diusir dari Amerika Serikat pada 1927 dan meninggal di Inggris pada 1940. Jenazahnya dipindahkan ke Jamaika, tempat dia menjadi pahlawan nasional pertama bangsa.

Filosofi Garvey, yang berpusat pada kembalinya orang kulit hitam ke tanah air mereka yang asli, membantu mengarah pada penciptaan agama Rastafari. Rastafarian percaya bahwa Haile Selassie I, Kaisar Ethiopia yang memerintah antara 1930 hingga 1974, adalah seorang Dewa dan bahwa ia akan memfasilitasi kembalinya komunitas kulit hitam ke Afrika. Salah satu di antara pengikut Garvey adalah seorang pria bernama Elijah Muhammad.

3. The Nation of Islam (NOI)

Sejarah tentang Muslim Kulit Hitam di AS tidak akan lengkap tanpa menyebutkan NOI. NOI didirikan oleh Wallace Fard Muhammad pada 1930, yang semakin dikenal karena Elijah Muhammad, pemimpin Muslim kontroversial yang ajarannya menyimpang dari Islam arus utama.

Dilahirkan pada 1897 di Georgia sebagai Elijah Poole, di usianya yang masih muda ia pernah menyaksikan hukuman mati tanpa pengadilan terhadap Albert Hamilton, seorang berketurunan Afrika-Amerika. Kejadian itu memiliki dampak mendalam pada dirinya.

Elijah Muhammad kemudian mengambil alih kepemimpinan NOI dari pendiri NOI, Fard.

"Nation of Islam tidak mengadopsi Islam ortodoks atau seperti beberapa orang akan mengatakan Islam Sunni,” kata Mahdi Bray, "Orang-orang seperti Muhammad Ali membantu membangun jembatan itu, kemudian menolak beberapa ajaran agama yang diberikan oleh Elijah Muhammad."

Namun, kelompok itu mendukung nasionalisme kulit hitam dan memiliki daya tarik yang luas.

"Seperti yang biasa dikatakan oleh seorang syekh dari Arab Saudi bahwa mungkin mereka tidak sholat dengan benar, tetapi mereka sholat ke arah yang benar," kata Bray.

4. Malcolm X

Malcolm Little lahir pada 1925 dengan warna kulit yang dianggap lebih terang daripada saudara-saudaranya. Ini adalah sesuatu yang membuat ayahnya lebih suka dia daripada anak-anak lain karena secara tak sadar sangat menderita dengan stigma terhadap orang kulit hitam sehingga dia cenderung lebih menyukai anak-anak yang tak masuk ke stigma tersebut.

Diskriminasi yang ia hadapi sebagai seorang anak membentuk pandangannya di kemudian hari ketika, tidak seperti King, ia dengan tegas menentang untuk melakukan rekonsiliasi dengan orang kulit putih –setidaknya dalam sebagian besar hidupnya.

Di masa mudanya, ia termasuk unggul di sekolah, namun gurunya sendiri tampak meremehkan dirinya dengan berkata untuk lebih realistis sebagai tukang kayu daripada terus bermimpi menjadi seorang pengacara.

Malcolm menggantikan Little dalam namanya dengan huruf X yang menyangkal dominasi kulit putih. Malcolm muda menghabiskan beberapa tahun di penjara, waktu di mana ia masuk Islam dan setelah dibebaskan ia menjadi anggota aktif dari NOI. Dia diketahui telah menyediakan banyak senjata intelektual untuk gerakan Black Power.

Setelah mengembangkan perbedaan dengan Elijah Muhammad, ia meninggalkan NOI pada 1964 dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk melakukan haji. Dia mengubah namanya menjadi El Hajj Malik el Shabazz.

Di akhir hayatnya, Malcolm X ditembak mati pada 1965 oleh beberapa anggota NOI.

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement