Contoh lain juga disebutkan Buya Hamka dengan mengisahkan riwayat mengenai mengobati penyakit. Bila ada yang beranggapan bahwa pergi ke dokter untuk mengobati penyakit akan melunturkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, itu adalah anggapan yang keliru dan perlu dikoreksi.
Sebab, perlu kita perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, "Tidaklah Allah menurunkan penyakit, melainkan diturunkan-Nya pula obatnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Bahkan dalam hadis lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh umatnya pergi berobat. Pergi berobat adalah bentuk ikhtiar seseorang yang sedang terserang penyakit. Meski sebenarnya, Rasullullah juga lebih menganjurkan kita untuk menjaga diri, yang artinya mencegah penyakit itu terjadi. "Larilah dari penyakit kusta (penyakit menular), sebagaimana lari dari harimau buas!" kata Nabi.
Mencegah penyakit maupun mengobati penyakit adalah ikhtiar, yang juga bagian penting dari tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Namun, Buya Hamka juga menjelaskan bahwa selain dengan ikhitiar, tawakal mesti dibarengi pula dengan ketabahan dan keteguhan hati. Sebab dengan ketabahan dan keteguhan hatilah kita bisa menerima berbagai takdir yang Allah gariskan untuk kita. Inilah yang dinamakan bertawakal dengan rasional. Iman, hati, dan akal menjadi kunci tercapainya tawakal sejati.
Wallahu a'lam.
Oleh Ahmad Soleh
Sekretaris DPP IMM dan Penulis Buku 'Wajah Islam Kita'.
(Muhammad Saifullah )