Harta Temuan, Apakah Ada Zakatnya?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 26 Juni 2020 16:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 26 614 2236913 harta-temuan-apakah-ada-zakatnya-pypBLvF8MT.jpg Ilustrasi zakat. (Foto: Zakat.or.id)

LUQATHAH (اللقطة) atau barang temuan berasal dari kata luqath (لقط) yang artinya memungut. Sedangkan secara istilah:

ﻣﺎ ﻭ ﺟﺪ ﻣﻦ ﺣﻖ ﻣﺤﺘﺮﻡ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﺮﻭﺭ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﺍﻟﻮﺍ ﺟﺪ ﻣﺴﺘﺤﻘﻪ .

Artinya: "Sesuatu yang ditemukan atas dasar hak yang mulia, tidak terjaga dan yang menemukan tidak mengetahui mustahiknya."

Bisa juga diartikan luqhotho' setiap harta yang lepas dari pemiliknya dan ditemukan oleh orang lain.

Baca juga: Temukan 15 Kg Batu Mulia Langka, Penambang Kecil Mendadak Jadi Miliarder

Dalam sebuah hadis disebutkan:

مَنْ وَجَدَ لُقَطَةً فَلْيُشْهِدْ ذَا عَدْلٍ أَوْ ذَوَيْ عَدْلٍ ثُمَّ لاَ يُغَيِّرْهُ وَلاَ يَكْتُمْ، فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا وَإِلاَّ فَهُوَ مَالُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.

Artinya: "Barang siapa yang mendapatkan luqhata' (barang temuan), maka hendaklah ia minta persaksian seorang yang adil atau orang-orang yang adil, kemudian ia tidak menggantinya dan tidak menyembunyikannya. Jika pemiliknya datang, maka ia (pemilik) lebih berhak atasnya. Kalau tidak, maka ia adalah harta Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendak." (HR Ibnu Majah)

"Memungut atau mengamankan luqathah atau barang temuan hukumnya sunah. Apabila luqathah tersebut berada di tempat yang aman, maka pemungutnya disunahkan mengambilnya. Akan tetapi jika barang tersebut berada di tempat yang tidak aman, lalu bila dibiarkan berpeluang lenyap karena tidak yang bertanggung jawab, maka wajib dipungut," jelas Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin kepada Okezone, Kamis 25 Juni 2020.

Luqathah bahkan dihukumi haram dipungut jika ada potensi tamak terhadap barang tersebut. Perbedaan hukum memungut ini melihat kepada orang yang merdeka, baligh, dan berakal, meskipun bukan seorang Muslim.

Adapun jika bukan seorang yang merdeka, atau anak-anak atau yang tidak berakal, maka tidak dibebani memungut luqathah.

Ilustrasi harta temuan. (Foto: Istimewa)

Dari Zaid bin Khalid al Juhani Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Datang seorang badui kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seraya bertanya kepadanya tentang apa yang ia temukan. Beliau bersabda:

عَرِّفْهَا سَنَةً ثُمَّ اعْرِفْ َعِفَاصَهَاِ وَوِكَاءَهَا فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يُخْبِرُكَ بِهَا وَإِلاَّ فَاسْتَنْفَقَهَا.

Umumkan selama satu tahun, kemudian kenalilah tempatnya dan tali pengikatnya, apabila datang seseorang memberitahukan kepadamu tentangnya maka berikanlah, jika tidak maka belanjakanlah." (HR Bukhari dan Muslim)

"Kalau luqathah adalah harta yang diyakini mempunyai pemilik yang masih mencarinya, maka ditunggu sampai setahun, setelah diumumkan baru boleh digunakan atau dijual. Jika temuan tersebut berupa emas atau uang setara 85 gram atau lebih baginya zakat 2,5 persen," terang Ustadz Ainul Yaqin.

Baca juga: Kuota Haji 2020 Terbanyak untuk Ekspatriat, Warga Arab Hanya Sepertiga 

Ia melanjutkan, kemudian ada juga jenis barang temuan rikaz. Secara bahasa rikaz berarti sesuatu yang terpendam di dalam bumi berupa barang tambang atau harta. Secara syari, rikaz berarti harta zaman jahiliyah berasal dari non-Muslim yang terpendam dan diambil dengan tidak disengaja tanpa bersusah diri untuk menggali, baik yang terpendam berupa emas, perak, atau harta lainnya.

"Selain rikaz, dalam Islam kita mengenal Ma'dan yakni secara syari yang dimaksud ma'dan adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam bumi dan mempunyai nilai berharga. Ma'dan atau barang tambang di sini bisa jadi berupa padatan seperti emas, perak, besi, tembaga, timbal, atau berupa zat cair seperti minyak bumi dan aspal," ungkap Ustadz Ainul Yaqin.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ustadz Ainul Yaqin memaparkan, harta yang ditemukan dalam bumi dapat dibagi menjadi menjadi tiga:

1. Harta yang memiliki tanda-tanda kaum kafir (non-Muslim) dan harta tersebut terbukti berasal masa jahiliyah (sebelum Islam) disebut rikaz.

2. Harta yang tidak memiliki tanda-tanda yang kembali ke masa jahiliyah, maka dapat dibagi dua:

a. Jika ditemukan di tanah bertuan atau jalan bertuan disebut luqathah (barang temuan).

b. Jika ditemukan di tanah tidak bertuan atau jalan tidak bertuan disebut kanzun (harta terpendam).

3. Harta yang berasal dari dalam bumi disebut ma'dan (barang tambang).

Dijelaskan pula bahwa harta terpendam tidak terlepas dari lima keadaan, yaitu:

1. Ditemukan di tanah tak bertuan.

Seperti ini menjadi milik orang yang menemukan. Nantinya ia akan mengeluarkan zakat sebesar 20 persen dan sisa 80 persen jadi miliknya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai seseorang yang menemukan harta terpendam:

إن كنت وجدته في قرية مسكونة ، أو في سبيل ميتاء ، فعرفه ، وإن كنت وجدته في خربة جاهلية ، أو في قرية غير مسكونة ، أو غير سبيل ميتاء ، ففيه وفي الركاز الخمس

Artinya: "Jika engkau menemukan harta terpendam tadi di negeri berpenduduk atau di jalan bertuan, maka umumkanlah (layaknya luqathah atau barang temuan, pen). Sedangkan jika engkau menemukannya di tanah yang menunjukkan harta tersebut berasal dari masa jahiliyah (sebelum Islam) atau ditemukan di tempat yang tidak ditinggali manusia (tanah tak bertuan) atau di jalan tak bertuan, maka ada kewajiban zakat rikaz sebesar 20 persen (seperlima). (HR Abu Dawud)

Ilustrasi harta temuan. (Foto: Unsplash)

2. Ditemukan di jalan atau negeri yang berpenduduk

Seperti ini diperintahkan untuk mengumumkannya sebagaimana barang temuan (luqathah). Jika datang pemiliknya, maka itu jadi miliknya. Jika tidak, maka menjadi milik orang yang menemukan sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.

3. Ditemukan di tanah milik orang lain. Ada tiga pendapat dalam masalah ini:

a. Tetap jadi milik si pemilik tanah. Demikian pendapat Abu Hanifah, Muhammad bin Al Hasan, qiyas dari perkataan Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.

b. Menjadi milik orang yang menemukan. Inilah pendapat yang lain dari Imam Ahmad dan Abu Yusuf. Mereka berkata bahwa yang namanya harta terpendam bukanlah jadi milik si empunya tanah, namun menjadi milik siapa saja yang menemukan.

c. Dibedakan, yaitu jika pemilik tanah mengenai harta tersebut, maka itu jadi miliknya. Jika si pemilik tanah mengenalnya, harta tersebut menjadi milik si pemilik tanah pertama kali. Demikian dalam mazhab Syafii.

4. Ditemukan di tanah yang telah berpindah kepemilikan dengan jalan jual-beli atau semacamnya. Ada dua pendapat dalam masalah ini:

a. Harta seperti ini menjadi milik yang menemukan di tanah miliknya saat ini. Demikian pendapat Malik, Abu Hanifah, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad selama pemilik pertama tanah tersebut tidak mengklaimnya.

b. Harta tersebut menjadi milik pemilik tanah sebelumnya jika ia mengenal harta tersebut. Jika tidak dikenal, maka menjadi pemilik tanah sebelumnya lagi, dan begitu seterusnya. Jika tidak di antara pemilik tanah sebelumnya yang mengenalnya, maka perlakuannya seperti luqathah (barang temuan).

5. Jika ditemukan di negeri kafir harbi (orang kafir yang boleh diperangi). Jika ditemukan dengan cara orang kafir dikalahkan (dalam perang), maka status harta yang terpendam tadi menjadi ghanimah (harta rampasan perang). Jika harta tersebut mampu dikuasai dengan sendirinya tanpa pertolongan seorang pun, maka ada dua pendapat:

a. Harta tersebut menjadi milik orang yang menemukan. Demikian pendapat dalam mazhab Ahmad, mereka qiyaskan dengan harta yang ditemukan di tanah tak bertuan.

b. Jika harta tersebut dikenal oleh orang yang memiliki tanah tersebut yaitu orang kafir harbi dan ia ngotot mempertahankannya, maka status harta tersebut adalah ghanimah. Jika tidak dikenal dan tidak ngotot dipertahankan, maka statusnya seperti rikaz (harta karun). Demikian pendapat Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, masing-masing mereka memiliki rincian dalam masalah ini.

"Tidak dipersyaratkan nishob dan haul dalam zakat rikaz. Sudah ada kewajiban zakat ketika harta tersebut ditemukan. Besar zakatnya adalah 20 persen atau 1/5. Demikian makna tekstual dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَفِى الرِّكَازِ الْخُمُسُ

Artinya: "Zakat rikaz sebesar 20 persen." Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama)," jelas Ustadz Ainul Yaqin.

Ilustrasi emas. (Foto: Shutterstock)

Ia mengungkapkan, para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa rikaz disalurkan kepada orang yang berhak menerima zakat. Demikian pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad.

Imam Ahmad berkata, "Jika hanya diberikan rikaz tersebut kepada orang miskin, maka sah."

Pendapat kedua menyatakan bahwa rikaz disalurkan untuk orang yang berhak menerima fai’ (harta milik kaum Muslimin yang diperoleh dari orang kafir tanpa melakukan peperangan).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu." (QS Al Baqarah: 267)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya