Islam Sudah Ada di Amerika Sebelum Columbus Datang

Senin 13 Juli 2020 08:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 614 2245369 islam-sudah-ada-di-amerika-sebelum-columbus-datang-gGyl0r4aQd.jpg Ilustrasi masjid di Amerika. (Foto: Istimewa/5pillarsuk)

BERBAGAI hal tentang ajaran Islam terus dibahas kalangan Muslimin di Amerika Serikat. Mulai syariat yang ditetapkan hingga sejarah perkembangannya. Hal itu sebagaimana mengemuka dalam diskusi virtual mengenai Islam di Negeri Paman Sam yang diadakan pada 4 Juli 2020. Kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan hari jadi ke-244 tahun Amerika Serikat. Dua pembicara dengan pengalaman berbeda tentang Amerika memaparkan penilaian masing-masing.

Ketika Amerika Serikat berusia 244 tahun, Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) ingin mencari tahu bagaimana Islam di sana. Lembaga dakwah di Indonesia itu mengundang dua pembicara: Hilman Fauzi dan Shamsi Ali, dalam diskusi virtual akhir pekan lalu.

Baca juga: Hukum Berkurban dengan Hewan yang Sedang Hamil 

Sering disebut ustadz muda, Fauzi kerap menjadi penceramah dan pembawa acara keislaman di televisi. Ia mulai tinggal di Amerika pada 2006 sebagai pelajar. Sepuluh tahun kemudian, Fauzi kembali untuk bersafari dakwah, berturut-turut pada 2016 dan 2017.

Ia mengatakan, pengalaman belajar dan berdakwah di Amerika Serikat membekalinya kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan apa pun dalam berdakwah.

Di Amerika Serikat, Fauzi berdakwah untuk warga negara Indonesia. Hanya sedikit orang Amerika yang hadir, dan kebanyakan adalah pasangan diaspora Indonesia.

"Jadi tidak langsung bisa berdialog secara keagamaan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan," kata Hilman Fauzi, seperti dikutip dari VOA, Senin (13/7/2020).

Berdasarkan pengalamannya, Fauzi mencatat tiga karakter orang Amerika. Pertama, sangat kritis. Sikap ini sempat menghentak Fauzi. Pada sisi lain, ia mendapati orang Amerika mudah menerima argumentasi kalau bisa memahami apa yang disampaikan.

"Dari situ saya melihat bahwa berangkat pertanyaannya bukan dari apa, tetapi kenapa? Jadi sangat fundamental," jelas Fauzi.

Karakteristik kedua, lanjut dia, orang Amerika tidak mempertanyakan legalitas yang cenderung menghakimi orang lain, melainkan berdiskusi, mempertanyakan “bagaimana”, sehingga melihat isu dari berbagai "kacamata". Menurut Fauzi, ini menyadarkan untuk tidak memaksakan satu penilaian kepada orang lain.

Karakteristik ketiga, kata Fauzi, menjunjung toleransi.

Baca juga: Bolehkah Wanita Haid Membaca Alquran? 

Sebelum berangkat ke Amerika, Fauzi mengaku dibayangi hal tidak menyenangkan akan sikap orang terhadap Muslim. Setelah beberapa kali ke Amerika, ia mendapati orang Amerika sangat terbuka.

Fauzi ingat di Washington, Philadelphia, dan Phoenix melihat banyak gereja yang dibuka untuk Sholat Jumat. Ia mengaku rindu melihat toleransi seperti itu.

Ilustrasi Muslim di Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Wujud toleransi lain di Amerika, Fauzi menunjuk pesatnya pertumbuhan masjid. Bahkan kini ada pesantren pertama di Amerika, Nusantara Foundation, yang didirikan Shamsi Ali.

Pembicara kedua dalam diskusi itu, Shamsi Ali, tercatat sebagai direktur Jamaica Muslim Center di New York. Tetapi, penulis buku tentang kerja sama antaragama itu lebih dikenal sebagai tokoh Muslim.

Baca juga: 3 Hal yang Mesti Diperhatikan Muslimin ketika Diundang ke Pernikahan 

"Banyak persepsi yang mengatakan bahwa Islam itu baru di Amerika. Itu bagian dari upaya untuk melemahkan!" kata Shamsi Ali.

Islam, jelas dia, dicitrakan sebagai pendatang supaya Muslim tidak merasa memiliki negara ini. Padahal, Islam sudah hadir di bumi Amerika jauh sebelum kedatangan sang penjelajah Christopher Columbus.

Ilustrasi Muslimin. (Foto: Shutterstock)

Shamsi Ali menunjuk catatan sejarah dalam bahasa Arab di gunung-gunung di Denver, Colorado. Ia juga memaparkan Muslim datang dari Spanyol dan China, berinteraksi dengan orang asli Amerika, sebelum kedatangan orang-orang kulit hitam, yang separuhnya Muslim dan dijadikan budak, dari Afrika.

Dalam perkembangannya, imigran Muslim datang dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa timur. Di New York, terdapat hampir 1 juta Muslim dengan hampir 300 masjid. Tetapi, Shamsi Ali menyayangkan mereka bermental rumah.

"Salah satu di antaranya adalah merasa bahwa terlibat dalam kehidupan publik adalah ancaman kepada pemerintah. Di Amerika terbalik. Untuk kita bisa aman, untuk mendapatkan hak kita, maka kita harus terlibat dalam kehidupan publik," ungkap Shamsi Ali.

Baca juga: Diubah Jadi Masjid, Begini Sejarah Hagia Sophia 

Dalam kiprahnya, ia menyampaikan bahwa Islam tidaklah identik dengan Arab. Lalu terkait isu belakangan ini, Islam adalah obat mengatasi penyakit rasisme karena Islam adalah agama bagi semua warna kulit.

"Maka, kita tidak pernah membenci orang karena warna kulitnya. Kita membenci orang karena perilaku rasisnya, dan kami berjuang bersama orang (kulit) hitam, membela mereka, untuk mengatakan: yang kita lawan adalah rasisme. Bukan orang (kulit) putih," kata Shamsi Ali.

Ia menambahkan, di Amerika yang banyak masuk Islam belakangan ini adalah orang muda, pintar, profesional, dan hampir 70 persen adalah wanita. Islam juga mencatat sejarah setelah Ilhan Omar, Muslimah pertama berjilbab di DPR, memaksa Kongres mengubah aturan mengenai penutup kepala dalam sidang.

Baca juga: Hagia Sophia Dikembalikan Jadi Masjid Usai Keputusan Pengadilan 

Ilustrasi masjid. (Foto: Unsplash)

Shamsi Ali menambahkan, di New York, sejak enam tahun lalu Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari libur. Makanan halal juga sudah masuk ke sekolah-sekolah negeri dan sedang diperjuangkan disediakan di penjara-penjara. Ini perjuangan yang terus-menerus.

Selain menambah wawasan, manajer pengembangan cabang dan luar negeri PPPA Diki Alauddin mengatakan bahwa diskusi virtual ini adalah bentuk komunikasi dengan diaspora Muslim Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.

"Dan juga mengenal bagaimana Islam berkontribusi dalam perkembangan sosial, cultural, dan political di Amerika Serikat," jelasnya.

Baca juga: Waspadai Penyakit Hati, Ini Cara Mengobatinya 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya