Hakikat Perjalanan Hidup Manusia dari Alam Dzar hingga Akhirat

Yudistira, Jurnalis · Rabu 02 September 2020 12:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 02 330 2271354 hakikat-perjalanan-hidup-manusia-dari-alam-dzar-hingga-akhirat-PbgpfBf2sI.jpg Ilustrasi (Pond5)

DALAM khazanah keilmuan, manusia ditakdirkan berada dalam beberapa alam selama hidupnya. Alam dzar, alam dunia dan alam baqa atau akhirat. Titik balik dari rangkaian tahun baru hijriah, bisa dimaknai dengan mengambil nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Ulama ahli tafsir Alquran Indonesia, Prof. KH. Quraish Shihab menyampaikan kisah perjalanan para Nabi Muhammad yang melakukan hijrah dalam berdakwah kepada umatnya.

"Pada saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, ia sempat berlindung di dalam Gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy dan ditemani oleh Abu Bakar As Shidiq. Dalam persembunyiannya, Abu Bakar merasa ketakutan sehingga Nabi menenangkan,” katanya dikutip dari video tausyiah di laman YouTube Quraish Shihab, Rabu (2/9/2020).

Baca juga:  10 Adab Sebelum Safar yang Diajarkan Rasulullah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِذْ يَقُوْلُ لِصَا حِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ

Artinya: "Keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah 9: Ayat 40)

Pada peristiwa Perang Badar, terjadi keresahan yang lain. Nabi Muhammad pada saat itu tidak tenang sampai beliau berdoa dan bersabda "Kalau ini hancur, Engkau tidak akan ada yang sembah lagi Ya Allah."

Dalam peristiwa itu, Abu Bakar menenangkan Nabi dan berkata "Kafaaka Kafaaka fa inna Allaha munjizun laka maa wa'adaka (cukup bagimu Allah Dzat yang memenuhi apa yang telah dijanjikan kepada mu).

Dari peristiwa Hijrah Nabi berada dalam posisi tenang, dalam peristiwa Badar, Abu Bakar tenang.

"Apapun yang dilakukan oleh seseorang, betapapun tinggi kedudukannya dan ia melakukan kondisi yang sama, tapi sesungguhnya yang dilakukannya berbeda dengan Nabi. Yang dilakukan oleh Nabi, lebih benar daripada yang dilakukan oleh Abu Bakar sebagai sahabatnya, walaupun namanya disebut dalam Alqur'an," terang Quraish Shihab.

Baca juga:  4 Pelajaran Penting dan Inspiratif dari Kisah Nabi Yusuf

Dalam peristiwa lain, hijrah juga dialami oleh Nabi Musa As dan dihalangi oleh Fir'aun beserta pasukannya. Nabi Musa pada saat dikejar tentara Fir'aun berdoa yang tercatat dalam Al Qur'an Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَا لَ كَلَّا ۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Artinya: "Dia (Musa) menjawab, Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."

(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 62)

"Dalam Al Qur'an Surah Al A'raf ayat 162, Allah menjelaskan bahwa manusia sebelum berada di alam dunia, dia berada dalam alam dzar. Saat itu, semua cucu Nabi Adam dimintakan kesaksiannya akan Tuhannya. Dan peristiwa ini, menjadi landasan utama bahwa seluruh manusia memiliki fitrah ketuhanan di dalam dirinya. Karena hal ini pernah dilakukan sebelumnya. Inti dari kehidupan kita di alam dzar, adalah pengakuan tentang keesaan Allah SWT. Maka dari itu, setiap manusia, memiliki god spot, sisi ketuhanan," ujar Quraish Shihab.

"Menuju alam dunia, manusia memiliki tiga alam yang berbeda. Pertama alam yang nyata, kedua alam mimpi, ketiga alam yang dibuatnya sendiri. Alam ketiga terjadi ketika kita menerima sebuah kesan terhadap sesuatu dan masuk ke dalam imajinasi kita. Kita selalu menganalogikan alam lain adalah ala akhirat. Padahal sejatinya, di dalam dunia pun setiap manusia memiliki alam yang berbeda-beda," ucapnya.

"Perjalanan manusia di dunia, terjadi sejak di dalam kandungan, kemudian lahir, menjadi bayi, remaja dan seterusnya. Sejak dalam kandungan itulah ada perintah untuk berdoa. Itulah mengapa agama menganjurkan kita untuk bersikap tenang, harmonis, religius pada saat berhubungan. Karena akan berpengaruh pada anak yang akan dikandung."

"Pada saat memasuki usia tua, seperti yang dijelaskan dalam Surah Al Hadid ayat 16, sebagain ulama berpendapat bahwa ayat ini diturunkan pada saat sahabat Nabi yang sudah berumur 40 tahun, masih berleha-leha. Imam Ghazali bahkan mengatakan kalau engkau sudah berumur 40 tahun dan hatimu masih cenderung dengan dunia dan bukan akhirat, maka hati-hatilah. Jangan sampai engkau terjerumus ke neraka."

"Perjalanan hidup manusia bermula sejak dalam kandungan hingga mencapai masa tua, itu semua tidak lain hanyalah sebagai bekal perjalanan untuk menuju kehidupan selanjutnya. Manusia tertidur saat di dunia, ketika mati barulah mereka bangun dan melihat kenyataan kehidupan yang hakiki di akhirat," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini