JAKARTA – Muhammad al-Fatih atau Mehmet II (30 Maret 1432-3 Mei 1481) merupakan penguasa Utsmani ketujuh yang berkuasa pada (1444-1446) dan (1451-1481).
Turki Ustami tercatat mengalami kejayaan di bawah pimpinan Sultan Mehmet II (al-Fath). Semasa remaja atau pada berusia 19 tahun, al-Fatih mampu melaklukan kota Konstantinopel di masa kekhalifahan Turki Utsmani. Pelaklukan kota tersebut merupakan salah satu peristiwa bersejarah di masa perkembangan Islam.
Baca Juga: Berangkat ke Masjid dengan Niat Cari Ilmu Pahalanya Setara Ibadah Haji
Konstantinopel adalah kota yang paling tak bisa tertembus di dunia pada masa itu. Namun, dengan kekuasaan Mehmet II, Konstantinopel dapat ditaklukan dan dijadikan ibu kota kekaisaran Utsmani, yang bernama Istanbul.
Konstantinopel juga dipandang sebagai salah satu kota yang paling penting di dunia. Bahkan, pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, beliau pernah berkata bahwa kaum Muslim akan menaklukkan Konstantinopel.
Baca Juga: Nikmat Itu Wajib Disyukuri Bukan Justru Jatuh dalam Maksiat
Sebagaimana sebuah hadis, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya kota Konstantinopel akan ditaklukkan oleh tantara Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Imam Ahmad)
Bersangkutan dengan kisah ini, Ustaz Adi Hidayat Lc MA menjelaskan, bahwa dari masa Rasulullah hingga sahabat-sahabatnya, tidak ada yang bisa menaklukkan Konstantinopel. Namun, ketika al-Fatih berkuasa, dia mencoba mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadi orang yang sholeh. Akhirnya, al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel.
“Dengan dia mencari tahu kekuatan, ia mengumpulkan pasukannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan kemudia, terjadilah ketetapan itu. Dibukalah Konstantinopel itu oleh Muhammad al-Fatih,” ujarnya dalam Channel Youtube Siar Islam, pada Kamis (17/12/2020).
Upaya yang dilakukan Sultan Mehmet II ini dilakukan atas dasar pemimpin yang terbaik dengan memikul tugas mulia yang gagal diupayakan dari pemimpin sebelumnya.Begitulah kondisi saat Muhammad al-Fatih bisa menaklukkan kota tak tertembus di dunia ini.
(Vitrianda Hilba Siregar)