Hati- Hati Beralasan dengan Menggunakan Kata Takdir

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Senin 25 Januari 2021 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 330 2350367 hati-hati-beralasan-dengan-menggunakan-kata-takdir-Hc932WOrB5.jpg Musibah banjir terjadi di Kalimantan Selatan. (Foto:Antara)

JAKARTA- Meletakkan kata takdir dalam suatu keadaan harus berhati-hati. Jangan sampai apa yang tidak pantas namun dipaksakan menyandingkan dengan kata takdir.

Banyak orang yang keliru menyandingkan kata takdir. Ustaz Yulian Purnama menyontohkan: Bagaimana hukum mengatakan "ini kan sudah takdir..." terhadap suatu perbuatan? Perkataan seperti ini disebut juga dengan al ihtijaj bil qadar atau beralasan dengan takdir. Hal ini disampaikannya dalam grup kajian dikutip pada Senin (25/1/2021)

Baca Juga: Hati-Hati! Suuzan Jadi Pengundang Musibah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

"Jelas bagi kita bahwa beralasan dengan takdir terhadap suatu musibah, ini dibolehkan. Demikian juga beralasan dengan takdir terhadap suatu maksiat, setelah pelakunya bertaubat, ini juga dibolehkan. Adapun beralasan dengan takdir untuk membenarkan suatu maksiat dan membela maksiat seseorang, dan agar bisa terus-menerus melakukannya, maka ini tidak diperbolehkan" (Syarah Hadits Jibril 'alaihissalam, 93).

Baca Juga: Saatnya Hidupkan Al-Hujarat Etics, Apa Itu?

Maka, beralasan dengan takdir hukumnya boleh dalam 2 keadaan:

1. Menanggapi suatu musibah

Seperti ketika ada anggota keluarga kita yang meninggal, atau kita kehilangan barang, atau usaha kita merugi, maka kita katakan "mau bagaimana lagi... ini sudah takdir Allah". Ini boleh.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

2. Ketika bertobat dari suatu maksiat

Seperti ketika seseorang yang mengkonsumsi narkoba, lalu ditangkap polisi dan hidupnya kacau-balau. Kemudian dia bertobat dan menyesal sambil mengatakan, "Andaikan waktu bisa diulang, saya pasti akan jauhi narkoba. Namun bagaimana lagi... ini sudah takdir Allah". Ini juga hukumnya boleh.

Namun tidak diperbolehkan beralasan dengan takdir untuk membenarkan maksiat. Misalnya, ketika pezina ditanya "kenapa kamu berzina?" lalu ia menjawab "yaah.. sudah takdir Allah pak. Kalau Allah tidak takdirkan juga saya tidak berzina".

Ini tidak diperbolehkan dan alasan tersebut batal, ia tetap wajib dihukum, dan perbuatan seperti ini persis dengan perbuatan kaum musyrikin.

Allah ta'ala berfirman:

 سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

"Orang-orang musyrikin akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak berbuat syirik dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta" (QS. Al An'am: 148). Semoga Allah ta'ala memberi taufik. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini