Hari Pers Nasional, Ustaz Abdul Somad Ungkap 10 Kode Etik Jurnalistik dalam Islam

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Senin 08 Februari 2021 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 330 2358472 hari-pers-nasional-ustaz-abdul-somad-ungkap-10-kode-etik-jurnalistik-dalam-islam-50dDPcOXRH.jpeg Ustaz Abdul Somad. (Foto:Okezone/Dok)

Jadi media sedianya menampilkan kesucian, kebersihan, pribadi.

Lantas kedua, Islam itu datang untuk menjaga 5 hal hifzul aqli (menjaga akal), hifzun nafs (menjaga nyawa), hifzul maal (menjaga harta), hifzun nasal (menjaga keturunan), hifzul syarf (menjaga kehormatan orang).

Menurut UAS, konteks ‘hifzul syarf’ ini sangat erat kaitannya dengan kode etik jurnalistik. Pasalnya, anjuran untuk menjaga kehormatan manusia dan tidak boleh dirusak.

"Maka tidak boleh caci maki, sumpah serapah, merusak nama baik, baik itu suku agama bangsa dsb. Jadi nilai-nilai inilah yang disusun oleh para ulama sumbernya Al-Quran dan hadits Nabi Muhamad SAW,” jelas ustaz kelahiran Asahan, Sumatera Utara ini.

UAS juga meminta JMSI turut berijtihad mengangkat kode etik dalam konteks menjaga kehormatan ini dari hal-hal yang bersifat universal. Sehingga akan menjadi rahmat bagi para jurnalis, dan dia juga bagi objek yang disampaikan oleh jurnalis. Karena kedatangan Islam adalah salam atau kedamaian.

Poin ketiga, UAS menyebutkan bahwa dalam Islam apabila ada suatu berita itu tidak boleh ada orang yang mendengar satu arah saja. Dia mesti ada konfirmasi, klarifikasi, check and recheck dalam sebuah berita.

Mengapa? Sebab kalau berita yang sudah menyebar sulit untuk menariknya kembali. Maka dalam Islam ada istilah klarifikasi yang dikenal dengan istilah tabayyun.

Poin keempat, UAS mengingatkan jurnalis dan produk jurnalistik tidak boleh berisi caci maki orang, memfirnah. Sekalipun dia menyembah selain Allah. Hal ini bisa berpotensi terjadinya konflik yang luar biasa.

Kelima, jurnalis dan produk jurnalistik tidak boleh ada logika generalisir.

Baca Juga: Puasa Senin Kamis, Ini Alasan Mengapa Nabi Muhammad Melakukannya

Keenam, bahwa tidak dibenarkan ada ghibah atau gosip. UAS menegaskan bahwa dalam hadis ada perintah 'janganlah kamu bicarakan aib orang lain'.

Namun begitu, UAS memiliki cerita saat dirinya masih kecil ada stereotipe terhadap wartawan yang terkesan buruk. Padahal, hal ini karena orang-orang sulit membedakan mana gosip mana fakta.

Maka dari itu, UAS menyebut, dalam hukum Islam, setelah diteliti, orang boleh mengungkapkan sesuatu yang tidak baik dengan 3 alasan: Pertama, hakim di pengadilan bertanya kepada saksi. Jadi tidak dikatakan ghibah. Kedua, saat orang ingin bertanya suatu hukum. Ini tidak ghibah atau gosip. Karena bagaimana mungkin kita bisa menjawab pertanyaan. Ketiga, menunjukkan bahwa mana yang haq dan bathil.

Ketujuh, menghindari pornografi. Al-Quran bercerita tentang macam-macam hukum, tetapi bahasa, diksi, dipilih amat sangat lembut. Bahkan ketika Al-Qur'an bercerita tentang hubungan kelamin ditulis 'menyentuh kulit'.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya