Keutamaan Bulan Muharram, Ada Hari Asyura Mengawali Tahun Hijriyah

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Jum'at 05 Maret 2021 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 330 2372920 keutamaan-bulan-muharram-ada-hari-asyura-mengawali-tahun-hijriyah-8gKuW0yExa.jpg Puasa Asyura pada bulan Muharram. (Foto:Freepik)

JAKARTA - Keutamaan bulan Muharram karena bulan yang mengawali tahun Hijriyah dan di dalamnya ada Hari Asyura, 10 Muharram. Bulan Muharram juga sebagai bulan yang mengawali tahun Hijriyah

Pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura dianjurkan untuk dilakukan ibadah puasa sunnah. Akan lebih baik jika menambahkan sehari sebelumnya atau sesudah tangal 10 Muharram agar berbeda dari tanggal berpuasanya kaum Yahudi.

“Di antara bulan Muharram ada satu hari yang paling istimewa yaitu di 10 Muharram atau Asyura. Akan lebih baik jika Anda tambahkan di tanggal 9-nya juga biar berbeda karena puasa di tanggal 10 Muharram adalah puasanya orang Yahudi,” ungkapnya dalam sebuah dakwa di Channel Youtube.

Baca Juga: Jin Tidak Tahu Ilmu Gaib, Termasuk yang Ada di Langit dan Bumi

“Kalau tidak bisa tanggal 9 nya, boleh di tanggal 11. Atau jika untung bisa dari tanggal 9, 10 dan 11, biar dapat pahala double,” pungkasnya.

Namun dia juga mengingatkan, perlu berhati-hati karena dalam mengerjakan ibadah sunnah di bulan Muharram. Harus dipastikan bersumber dari hadis yang sahih.

“Banyak riwayat-riwayat yang disusupkan kepada Islam tetapi tidak benar, namun banyak dipegangi oleh hamba-hamba Allah, termasuk puasa akhir tahun dan awal tahun,” kata Buya.

Baca Juga: Sholat Jumat Online, Jangan Mengkreasikan Ibadah Tanpa Tuntunan

Dia mengatakan pernah mendengar sebuah riwayat yang mengatakan bahwa berpuasa di akhir tahun yakni 30 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada tanggal 1 Muharram maka pahalanya seperti beribadah 50 tahun.

Selain itu, terdapat pula anjuran membaca ayat kursi yang diawali dengan bismillah 360 kali dan menulis basmallah 113 kali.

Buya menegaskan bahwa riwayat tersebut jelas merupakah fitnah, karena penentuan awal dan akhir tahun dalam kalender Hijriyah baru diputuskan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, bukan dari zaman Nabi Muhammad SAW.

“Ini jelas bohong riwayatnya, awal tahun dan akhir tahun itu menentukannya dari zaman Umar bin Khattab, bukan pada zaman Nabi,” tegas Buya. “Kalau untuk amalan bulan Muharram cukup hadits shahih yang berbunyi, “puasa yang paling bagus setelah Ramadhan adalah puasa di Bulan Muharram.” Ini sudah cukup.”

Adapun adanya tambahan anjuran seperti membaca ayat kursi atau bacaan lainnya tidak menjadi masalah asalkan tidak dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi hukumnya hanya anjuran baik, bukanlah sunnah karena bukan Nabi Muhammad SAW yang mencontohkan. “Kalau cuma menganjurkan saja tidak apa-apa, bagus. Asalkan jangan dinisbatkan kepada Nabi. Itu dusta, tidak boleh,” tambahnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Lebih lanjut, Buya berpesan kepada umat Muslim untuk senantiasa berhati-hati dan bersikap waspada akan adanya amalan-amalan tidak pasti atau palsu yang harus diperhatikan dan tidak boleh diikuti begitu saja. Hal ini dikarenakan dapat menjadi celah bagi pemecah kesatuan Islam yang dapat menimbulkan perdebatan dan permusuhan.

“Kalau riwayat-riwayat aneh hati-hati, terutama untuk para pembimbing. Harus waspada, karena kita bertanggung jawab langsung di hadapan Allah SWT.”

Jika tak bisa menentukan mana riwayat yang benar atau tidak, Buya menganjurkan untuk hanya mengikuti hadis Nabi yang sahih tadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya