Tata Cara Sholat Jumat Perhatikan Syarat Sahnya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Jum'at 12 Maret 2021 10:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 12 330 2376503 tata-cara-sholat-jumat-perhatikan-syarat-sahnya-C2nepUW1Uy.jpg Sholat Jumat berjamaah. (Foto:Freepix)

JAKARTA - Tata cara Sholat Jumat harus memenuhi syarat sahnya. Jika satu syarat saja tidak terpenuhi maka pelaksanaan Sholat Jumat belumlah sah.

Sholat Jumat sudah diketahui bersama adalah suatu kewajiban sebagaimana yang dimaksud dalam firman Allah SWT:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ...” (QS. Al Jumu’ah: 9)

Baca Juga: Hukum Sholat Jumat Wajib bagi Mukallaf dan Sudah Akil Balig

Sholat Jumat ini diwajibkan bagi:

1. Orang yang mukim atau bukan musafir.

2. Pria.

3. Sehat.

4. Merdeka.

5. Selamat dari lumpuh (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 198-199).

Pelaksanaan Sholat Jumat bisa menjadi sah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Pertama: Adanya khutbah

Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal dalam laman Rumasyo dikutip pada Jumat (12/3/2021) menyebutkan Khutbah jumat mesti dengan dua kali khutbah karena kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian adanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali. Ulama Syafi’iyah menambahkan bahwa khutbah Jum’at bisa sah jika memenuhi lima syarat:

Ucapan puji syukur pada Allah

Shalawat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Wasiat takwa (tiga syarat pertama merupakan syarat dalam dua khutbah sekaligus)

Membaca satu dari ayat Al Qur’an pada salah satu dari dua khutbah

Do’a kepada kaum muslimin di khutbah kedua

Baca Juga: Ini Syarat Khutbah Jumat Menurut Mazhab Imam Syafii

Namun sebenarnya khutbah yang dituntunkan adalah yang sesuai petunuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya berisi nasehat motivasi dan menjelaskan ancaman-ancaman terhadap suatu maksiat. Inilah hakekat khutbah. Jadi syarat di atas bukanlah syarat yang melazimkan (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 583)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kedua: Harus dilakukan dengan berjama’ah

Dipersyaratkan demikian karena sholat Jumat bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama.

Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang bisa disebut jama’ah Jum’at. Akan tetapi, menyatakan demikian harus ada dalil pendukung. Kenyataannya tidak ada dalil –sejauh yang kami ketahui- yang mendukung syarat ini.

Sehingga syarat disebut jamaah Jumat adalah seperti halnya jamaah shalat lainnya, yaitu satu orang jama’ah dan satu orang imam (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 593). Yang menyaratkan Sholat Jumat bisa dengan hanya seorang makmum dan seorang imam adalah ulama Hanafiyah (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202).

Ketiga: Mendapat izin khalayak ramai yang menyebabkan Sholat Jumat masyhur atau tersiar.

Sehinga jika ada seorang yang sholat di benteng atau istananya, dia menutup pintu-pintunya dan melaksanakan sholat bersama anak buahnya, maka Sholat Jumatnya tidak sah. Dalil dari hal ini adalah karena diperintahkan adanya panggilan untuk Sholat Jumat sebagaimana dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ...” (QS. Al Jumu’ah: 9) Panggilan ini menunjukkan shalat Jum’at harus tersiar, tidak sembunyi-sembunyi meskipun dengan berjama’ah. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya