Dari dialah informasi keberadaan musuh harus didapatkan. Dari dialah kekuatan dan kelemahan pasukan Fretlin harus didapatkan untuk seterusnya dilaporkan ke pimpinan. Tanpa ada laporan intelijen, maka unit pasukan RI akan sulit mendeteksi dan menghancurkan pemberontak.
Kembali lagi pada malam takbir yang mencekam. Ayahanda dan beberapa pasukan Brimob yang bersama dirinya tidak dapat bergerak dihujani peluru. Desing peluru terus melesak tanpa henti. "Saat peluru itu melesat, sangat jelas warnahnya merah terlihat dikegelapan malam," ujar ayahanda suatu ketika menceritakan kembali apa yang dialaminya kepada penulis.
"Apakah tidak bisa membalas serangan itu, ayah. Tidak bisa nak, karena Fretlin sudah menyebar ke mana-mana, mengepung ayah. Suara desing peluru itu terus menghujani lokasi ayah berlindung. Ayah tetap tiarap, tiarap sepanjang malam hingga pagi menjelang. Yang ayah tahu saat itu adalah malam takbir," ujarnya mengisahkan kembali.
"Jadi ayah tidak bisa membalas tembakan mereka. Tidak bisa nak, ayah hanya memegang senjata api jenis revolver, mereka pemberontak yang ayah ketahui menggunakan senjata serbu AK-47 buatan Uni Soviet,"
"Jadi ayah tiarap dan berlindung saja tanpa melakukan tembakan balasan? Iya nak, sejak mendapat serangan di malam takbiran hingga pagi hari ayah hanya tiarap. Ayah sudah pasrahkan semuanya saat itu kepada Allah Ta'ala."
Pada pagi harinya setelah mulai terang, unit pasukan penolong datang menggunakan helikopter membantu, balas menghajar pemberontak dengan ratusan butiran peluru tajam. Tak butuh waktu lama, pemberontak kocar-kacir. Balasan tembakan dari pemberontak pun tak ada lagi. Situasi pun menjadi tenang dan semua selamat.
Lantas mengapa sejak 2010 malam gema takbir lebih menggetarkan hati. Ya pada 2009 ayahanda tercinta wafat, pergi meninggalkan keluarga setelah 4 bulan sebelumnya, ibunda telah wafat lebih dahulu. Sejak saat itulah bila malam takbir seperti saat ini sangat menggetarkan hati. Mengingat kembali bagaimana perjuangan ayah, mempertahankan NKRI.
Semoga Allah Ta'ala, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Maha Pengasih, Maha Penyayang melimpahkan kasih dan sayang-Nya kepada ayahanda dan ibunda. Doa tak lepas kami panjatkan agar alam kuburnya mendapat lapang, terang dan tak putus cucuran kasih sayang Allah Ta'ala kepada keduanya. Aamiin.
(Vitrianda Hilba Siregar)