Ayah dan Anak Asal Indonesia Ini Menjadi Relawan di Palestina, Suara Bom Tak Goyahkan Tekad

Agregasi VOA, Jurnalis · Sabtu 05 Juni 2021 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 614 2420577 ayah-dan-anak-asal-indonesia-ini-menjadi-relawan-di-palestina-suara-bom-tak-goyahkan-tekad-70b7hGbOyu.jpg Edy Wahyudi dan anaknya Fikri Rofi'ul Haq. (Foto: VOA)

Fikri, yang ketika itu berusia 20 tahun, berangkat ke Gaza pada Februari 2020 sebelum dunia ‘lumpuh’ akibat pandemi virus corona. Di Gaza, ia sempat bertemu ayahnya. Selama beberapa bulan keduanya menjadi relawan untuk membangun rumah sakit Indonesia. Edy kembali ke Indonesia pada September 2020.

Ketakutan yang dialami Edy hampir tujuh tahun lalu dirasakan Fikri ketika Gaza dan Israel kembali terlibat perang, pertengahan Mei. “Takut banget. Hampir setiap jam kami mendengar suara roket dari pejuang Palestina. Kalau setiap malam, kami merasakan gempuran dari serangan Israel. Saat itu kami memang takut,” ujarnya.

Fikri, usia 22 tahun, dan dua pemuda relawan Indonesia, tinggal di Wisma Indonesia di sebelah rumah sakit Indonesia. Mereka tidak pernah keluar selama 11 hari agresi. Itulah pertama kali mereka mengalami langsung peperangan.

“Apalagi waktu itu yang menjadi salah satu target adalah rumah warga yang sekarang sudah rata dengan tanah, yang hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit. Waktu itu kami sempat keluar, melihat jendela. Memang ledakannya sangat besar sampai-sampai anginnya itu membuat kuping sakit,” kenangnya.

Ketakutan dan rasa sakit tidak menggoyahkan tekad Fikri untuk bertahan di Gaza. Persis sikap ayahnya, Edy pada 2014. Ia malah berfokus menyelesaikan tugas, menyiapkan dan mendistribusi bantuan yang dipercayakan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia juga memusatkan perhatian sebagai mahasiswa semester kedua pada Islamic University of Gaza. Ia bertekad baru akan pulang kalau sudah meraih sarjana.

Rima Manzanaris adalah manajer pelaksana MER-C di Jakarta. Sejauh ini, katanya, sudah dua bapak yang anaknya terjun juga sebagai relawan MER-C. Menurutnya, itu adalah suatu kebetulan. “Bapaknya memang relawan yang loyal, punya komitmen yang besar, dan ternyata anaknya juga punya keberanian,” puji Rima.

Sebelum berangkat, kata Rima, semua relawan selalu diberi gambaran mengenai situasi di lapangan dan diingatkan bahwa mereka tidak setiap saat bisa pulang. Mereka juga diharuskan mengantongi izin orang tua. “Anak-anak ini walaupun masih muda, mereka sudah siap.”

Pasca serangan bulan lalu, relawan berdatangan ke Gaza. Mereka membersihkan puing-puing ribuan rumah dan bangunan dan mencoba memperindah kembali kota di pesisir Laut Tengah itu. Fikri tentu saja ikut membantu setelah menyempatkan diri pergi ke pantai bersama pemuda setempat pasca Idul Fitri.

“Kan sekarang musim panas. Juga mereka biasanya ke pantai. Istirahat habis perang inilah, ibarat kata,” ujar Fikri.

Sementara Edy, yang terus menjadi relawan sepulangnya dari Gaza, merasa terpanggil untuk kembali ke Palestina. Bukan untuk menemui putranya melainkan membantu perluasan RS Indonesia.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(Vitri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya