PPKM Darurat Juga Pernah Dilakukan Zaman Rasulullah

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Kamis 01 Juli 2021 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 330 2433801 ppkm-darurat-juga-pernah-dilakukan-zaman-rasulullah-T3xw7LrGkk.jpg PPKM Darurat. (Foto: Okezone/Ilustrasi)

PEMBERLAKUAN Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat seiring meningkatnya lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia sudah diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada masa Rasulullah hal semacam ini juga sudah diperintahkan saat wabah pes dan lepra melanda.

Nabi Muhammad SAW pun memerintahkan dan melarang umatnya untuk memasuki daerah yang terkena wabah, apakah itu pes, lepra, maupun penyakit menular lain.

Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Update PPKM Darurat: Ini 14 Aturan yang Harus Dipatuhi Masyarakat

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW atau zaman sekarang disebut PPKM Darurat untuk mencegah wabah tersebut lebih menjalar.

Bahkan Rasullulah membuat dinding di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Sementara di masa ke Khalifah Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya.

Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan.

Baca Juga: Jokowi Resmi Umumkan PPKM Darurat di Jawa Bali Mulai 3-20 Juli 2021

Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Khalifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

Keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan pun semakin yakin saat mendapatkan informasi dari Abdurrahman bin Auf. Bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit. Begitupun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya. Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.

Sementara  Di rumah saja saat wabah itu pun sudah dapat pahala syahid. Tak percaya? Coba baca hadits berikut ini.

Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan,  ada riwayat  yang menambahkan jika berdiam di rumah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Baca Juga: Catat! Vaksin Dosis Tinggi Sudah Ada di dalam Al-Quran

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ath-tha’un (wabah), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan, 

أَنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَيْتِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Wabah adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, wabah itu dijadikan oleh Allah sebagai rahmat untuk orang beriman. Ketika terjadi wabah, siapa pun tinggal di dalam rumahnya dalam keadaan sabar, mengharap pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”

Pahala syahid ini didapati jika tetap diam di rumah; bersabar (menahan hati, lisan, dan anggota badan); mengharap pahala dari Allah; wabah itu terkena dengan takdir Allah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(Vitri)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya