إِغْلاقُ المًسَاجِدِ وَاْلكَعْبَةِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ لِلْحَاجَةِ لاَ بَأسَ بِهِ، وَلاَ يُقاَلُ: إِنَّ هَذَا مِنْ مَنْعِ مَسَاجِدِ اللهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهُ؛ لِأَنَّ هَذَا لِمَصْلَحَةٍ أَوْ لِحَاجَةٍ أَوْ لِضَرُوْرَةٍ أَحْيَاناً
“Penutupan masjid-masjid dan Ka’bah serta apa saja yang serupa dengannya untuk suatu keperluan (hajat) tidak apa-apa; dan JANGAN DIKATAKAN (bahwa penutupan tersebut) termasuk bagian dari menghalangi masjid-masjid untuk (dijadikan sebagai tempat) dzikrullah. sebab hal ini kadang-kadang dilakukan untuk suatu kemaslahatan atau hajat atau suatu darurat tertentu.
Sahabat mulia, Dalam suasana darurat/KLB atau pandemic Covid-9 yang nyat-nyata mengancam jiwa manusia; kembalilah kepada Fatwa-Fatwa Jamaíy (kolektif) para ulama kredibel, dan bukan kepada pendapat pribadi yang sempit.
Oleh: Fathurrahman Kamal,
Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah
(Vitrianda Hilba Siregar)