Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

3 Perangkat Tarjih Diperlukan Pendakwah Agar Tidak Membuat Orang Lari dari Agama

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 23 Agustus 2021 |14:00 WIB
3 Perangkat Tarjih Diperlukan Pendakwah Agar Tidak Membuat Orang Lari dari Agama
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto: Okezone)
A
A
A

KETUA Umum PP Muhammadiyah  Haedar Nashir mendorong dipahaminya tiga perangkat pemahaman Tarjih oleh pendakwah sehingga saat menyampaikan materi dakwah tidak membuat orang lari dari agama. 

Nah, tiga perangkat pemahaman Tarjih itu yakni Bayani (dalil), Burhani (Ilmu Pengetahuan), dan Irfani (hikmah) dianggap menjadi watak umum dari para tokoh-tokoh Muhammadiyah sejak Kiai Dahlan hingga saat ini.

Baca Juga: Muhammad Kece Rendahkan Islam dan Merusak Hubungan Antar Agama, MUI: Polisi Harus Bertindak

Selain dikenal berilmu, tokoh-tokoh Muhammadiyah juga dikenal penuh hikmah dan bersahaja ketika berinteraksi dengan siapa saja, termasuk kelompok yang berbeda atau berlawanan sekalipun.

Hal inilah yang membuat Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong dipahaminya tiga perangkat pemahaman tersebut oleh setiap warga Muhammadiyah.

Baca Juga: Cinta Tanah Air Itu Syar'i Sebagian dari Iman

“Nah Muhammadiyah itu juga punya jiwa, punya nyawa. Nah orang Muhammadiyah ada sebagian yang boleh jadi karena pikirannya terlalu rasional instrumental sehingga seperti mesin,” kritik Haedar melansir laman Muhammadiyah pada Senin (23/8/2021)

“Juga amar makruf nahi munkar itu penting tapi jangan sampai orang lalu menjadi lari dari agama, lari dari kebenaran karena cara kita. Maka, itulah yang Pak AR Fachrudin lakukan, Pak Badawi lakukan, Kiai Dahlan lakukan. Jadi tegas membawa kebenaran tidak harus garang dan menunjukkan kita itu seperti orang yang tazakkuh, paling bersih paling benar dan paling segala. Tidak perlu,” pesannya.

Penajaman pemahaman Bayani, Burhani dan Irfani ditekankan Haedar agar dalam berbagai dinamika kehidupan, warga Muhammadiyah tidak gagap dan bertindak tidak proporsional.

“Dengan kerendahan hati, tawadhu, tulus, kaya pemikiran, kita bisa berdakwah amar makruf nahi munkar. Jadi itu hal-hal yang memerlukan proses pembudayaan dan ketika kita menghadapi pandemi letakkan konsep memahami musibah pandemi ini perpaduan antara rasional ilmiah dan spiritual ilahiyah. Jangan satu-satu, sehingga kita tidak berdebat lagi,” pungkasnya.

(Vitrianda Hilba Siregar)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement