Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Doa Saat Mabit di Muzdalifah

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 18 Mei 2026 |17:53 WIB
Doa Saat Mabit di Muzdalifah
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Setelah menunaikan puncak ibadah wukuf di Arafah, jemaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam (mabit) sekaligus mengambil kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina. Terkait pelaksanaannya, sebagian ulama memperbolehkan jemaah mabit sebentar saja melalui skema murur, yaitu sekadar melintasi kawasan tersebut. Muzdalifah sendiri merupakan bagian dari Masy‘aril Haram, yakni pelataran suci yang sangat dimuliakan. Allah SWT berfirman:

فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ

Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia, secara etimologi, kata Muzdalifah berasal dari al-izdilaf yang bermakna berkumpul atau tempat pertemuan. Bahkan, sebuah riwayat menyebutkan di sinilah Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, malam tanggal 10 Dzulhijjah di Muzdalifah menjadi momentum emas bagi jemaah untuk memperbanyak zikir, merenung, dan memanjatkan doa kebaikan.

Menggantikan Doa Kaum Jahiliyyah

Dahulu pada masa Jahiliyyah, masyarakat Arab juga kerap berdiri dan berdoa di Masy‘aril Haram. Namun, orientasi doa mereka sangat terbatas pada kenikmatan duniawi yang semu, seperti meminta unta, kambing, harta, dan kemewahan hidup. Menanggapi hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat untuk mengoreksi cara pandang materialistis itu agar umat beriman senantiasa mengutamakan keselamatan akhirat di samping kehidupan dunia.

Berdasarkan kitab Ad-Du’a karya Imam Thabrani, peristiwa inilah yang melahirkan anjuran kuat untuk membaca "Doa Sapu Jagad" sewaktu berada di Muzdalifah:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Meskipun redaksinya ringkas, doa agung ini menghimpun seluruh kebaikan. Para mufassir menjelaskan bahwa hasanah fid-dunya (kebaikan dunia) mencakup rezeki yang halal, ilmu bermanfaat, kesehatan, keluarga saleh, dan berkah kehidupan. Sementara hasanah fil-akhirah (kebaikan akhirat) mencakup ampunan dosa, kemudahan dalam hisab, serta ganjaran surga yang abadi.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement