Menilik Konsep Nabi Muhammad Mendidik Keluarga Berakhlak Mulia

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 330 2488497 menilik-konsep-nabi-muhammad-mendidik-keluarga-berakhlak-mulia-kla1f1CxqH.jpg Cara Rasulullah mendidik keluarga berakhlak mulia (foto: Aimuslam)

JAKARTA - Nabi Muhammad SAW sebetulnya telah memberi contoh tentang metode pendidikan yang baik dan benar. Seperti dijelaskan oleh Ustadz Najmi Fathoni.

Kepada Okezone, Najmi mengatakan bahwa Rasulullah mendidik keluarga, sahabat dan kuam, tidak hanya berdasarkan teori tetapi juga dilengkapi dengan contoh dan perbuatan.

Hal tersebut juga dilakukan dengan melihat berbagai aspek, sehingga seluruh informasi dan ilmu yang diberikan dapat diterima baik oleh kaumnya. Contoh kecilnya, Nabi Muhammad SAW selalu menyusaikan pola komunikasinya ketika bertemu dengan murid maupun sahabat yang memiliki latar belakang berbeda.

Baca Juga: Kisah Pembebasan Makkah dari Kaum Quraisy, Kemenangan bagi Rasulullah dan Muslimin

"Ketika Nabi Muhammad berbicara dengan seorang budak, Bilal misalkan, bahasanya akan sangat berbeda ketika dia berhadapan sengan Umar bin Khattab, beda juga dengan Abu Bakar, atau Utsman bin Affan yang dikenal melankolis," terang Ustadz Najmi Fathoni.

Lebih lanjut, Najmi mengatakan, ketika ada orang miskin yang datang kepada Rasulullah dan bertanya, 'Amal apakah yang harus ku lakukan?', Nabi menjawab beramal lah dengan dengan tenagamu.

"Kalau org miskin disuruh beramal dengan harta, bisa stres lah dia. Sementara orang kaya, rasulullah berpesan untuk beramal dengan mal atau harta mereka. Jadi disesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing," tambahnya.

Baca JugaCece Cantik Ini Yakin Jadi Mualaf Setelah Mimpi Bertemu Rasulullah

Dari contoh di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa salah satu metode pengajaran Nabi Muhammad SAW selalu dimulai dengan bahasa yang mudah dan dimengerti oleh kaumnya. Sehingga sang murid tidak ada yang menolah dan bisa menerima semua ajaran yang disampaikan.

Sementara untuk sistem pengajarannya sendiri, sejak zaman dahulu, Rasulullah selalu menerapkan sistem halaqha, zaman sekarang bisa diibaratkan seperti pesantren.

Kala itu, pertama kali Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekkah, ia melakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Ibnu Al Arkom. Jumlah muridnya masih bisa dihitung dengan jari yakni, 7 orang sahabat. Kendati demikian, Rasulullah tetap mengajarkan mereka dengan sepenuh hati.

"Sahabatnya waktu itu diajarkan satu-satu cara membaca Al Quran, dan langsung dicontohkan. Kalau mengajarkan sesuatu yang kita tidak lakukan tentu orang yang diajar tidak akan percaya. Pola pendidikan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah," jelas Najmi.

Di samping itu, Najmi menjelaskan bahwa Rasulullah juga selalu mengajar dengan pola menggembirakan, melalui medium kiasan-kiasan atau kisah-kisah nabi terdahulu. Itulah sebabnya sekarang banyak guru yang mengajarkan murid-muridnya melalui dongeng.

"Beliau itu mengajar tidak pernah menakutkan dan tidak menggurui, tapi langsung terlibat. Sehingga terjadi kesetaraan antara yang mengajar dan diaja. Jadi mereka sama-sama belajar dan mengamalkan," kata Najmi.

Nilai-nilai inilah yang terkadang dilupakan oleh para guru zaman sekarang. Mereka seolah kehilangan arah, karena sudah terlalu banyak dibebani oleh mata pelajaran yang dipaksa untuk segera diajarkan kepada murid. Padahal, mereka sendiri lupa memberikan contohnya.

Tak heran bila akhir-akhir ini, banyak anak yang mulai berani melawan guru, karena tidak ada keteladanan dari gurunya sendiri.

"Maka yang ingin saya telankan disini, pendidikan ala Rasulullah adalah pendidikan penuh keteladanan," tutup Ustadz Najmi Fathoni.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Rasulullah Penyayang Anak dan Keluarga

teladan dari Rasulullah SAW. Seperti dikutip dari laman NU Online pada Selasa (12/11/2019), Nabi Muhammad adalah seorang yang sibuk mengurus pemerintahan, memimpin pasukan, menegakkan hukum, bernegosiasi dengan delegasi, mengajar para sahabat, menerima wahyu, dan mendakwahkan Islam, bahkan mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dunia.

Namun, di sela-sela kesibukannya, beliau ternyata seorang yang bertanggung jawab dan penuh perhatian kepada keluarga, kepada anak-istri, cucu, bahkan anak-anak di sekitarnya. Ia sosok pelindung dan seorang yang lemah-lembut terhadap keluarga.

Hal itu seperti yang diakuinya dalam salah satu hadits:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga” (HR al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Rasulullah SAW juga sosok penyayang dan ramah kepada anak-anak. Hal ini diakui langsung oleh Anas ibn Malik yang kesehariannya lebih banyak bersama Nabi Muhammad, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga selain Rasulullah SAW.”

Keakraban Nabi Muhammad kepada mereka terlihat jelas dalam berbagai kesempatan. Pernah pada suatu ketika, ia mencium salah seorang cucunya, al-Hasan ibn ‘Ali. Kejadian itu disaksikan langsung oleh al-Aqra‘ ibn Habis. Al-Aqra‘ pun berkomentar, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium.”

Rasulullah SAW menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mungkin al-Aqra‘ menduga bahwa laki-laki yang berkarakter kuat adalah mereka yang tak dekat dengan anak-anak. Namun, Rasulullah SAW dengan tegas menepis dugaan itu, sehingga spontan melontarkan jawaban, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang.”

Jawaban itu jelas menunjukkan sikap beliau yang sangat luhur, penyayang, ramah anak, dan tentunya sangat layak diteladani para ayah pada Hari Ayah Nasional ini. Keluhuran, ketawadukan, dan kerendahan hati Rasulullah SAW benar-benar tak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Karena keluhurannya beliau tak sungkan membaur dan bergaul dengan anak kecil.

Pernah suatu saat ia menghibur anak Ummu Sulaim bernama Abu Umair yang menangis karena kematian burung kesayangannya. Bentuk lain kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW kepada anak-anak adalah tidak membebani mereka di luar kemampuannya.

Disebutkan, pada saat perang Uhud, Nabi Muhammad kedatangan sejumlah anak yang ingin ikut berperang. Namun ia menolak karena mereka masih kecil. Mereka adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khathab, Usamah ibn Zayd, Usaid ibn Zhuhair, Zayd ibn Tsabit, Zayd ibn Arqam, ‘Arabah ibn Aus, ‘Amr ibn Hazm, Abu Sa‘id al-Khudri, dan Sa‘d ibn Habah.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bahkan tak ragu untuk meminta air dan membasuh air pipis anak kecil. Perhatian dan perlindungan Rasulullah SAW terhadap anak-anak ini bukan sekadar perlakuan sepintas dan sewaktu-waktu, melainkan berlangsung berulang-ulang, sampai-sampai anak-anak kecil kerap menemui Rasul sepulang bepergian dan mengajaknya bermain atau bergurau dengan mereka. Nabi Muhammad seakan tak punya keperluan atau kesibukan selain bermain dengan anak-anak (lihat: Raghib al-Sirjani, Nabi Kaum Mustad‘afin, 2011, [Jakarta: Zaman], hal. 38).

Kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW bahkan jauh melebihih kasih sayang dan kelembutan seorang ayah kepada anaknya. Pernah pada suatu saat Abu Bakar meminta izin untuk datang ke rumah Nabi Muhammd SAW. Namun setiba di rumah Rasulullah, ia mendengar suara keras putrinya, ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, kepada suaminya. Begitu masuk, ia langsung meraih tangan putrinya dan bermaksud menamparnya, sambil berkata, “Tadi aku mendengarmu membentak Rasulullah SAW.”

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya