Share

Raja Pusing Mikirin Kambing Nazar, Abu Nawas Gampang Banget Kasih Solusi, Semua pun Heran!

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 30 Januari 2022 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 29 614 2539877 raja-pusing-mikirin-kambing-nazar-abu-nawas-gampang-banget-kasih-solusi-semua-pun-heran-DHdDGT2sQP.jpg Ilustrasi cerita lucu Abu Nawas. (Foto: Istimewa)

HUMOR Abu Nawas kali ini masih terkait aksinya dengan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Berawal ketika suatu malam Raja tidak bisa tidur. Matanya belum bisa diajak istirahat. Maklum saja, pikiran Baginda Raja sedang tidak tenang. Gara-garanya seorang pemuda membawa masalah pelik pada siang hari sebelumnya.

Ceritanya terjadi ketika siang itu seorang pemuda datang ke Kota Baghdad menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid, raja yang adil, arif, dan bijaksana. Ketika Baginda Raja sedang duduk di Balairung bersama beberapa orang menteri.

"Hai anak muda, engkau berasal dari mana?" tanya Baginda kepada pemuda tersebut, dikutip dari Kalam Sindonews, Ahad (30/1/2022).

"Ya Tuanku Syah Alam," jawab sang saudagar, "Ampun beribu ampun, adapun patik ini berasal dari Negeri Kopiah."

Baca juga: Hebat! Abu Nawas Bisa Ajari Keledai Membaca, Raja Penasaran Banget: Gimana Caranya? 

"Apa maksudmu datang kemari, ingin berdagang?" tanya lagi Baginda Raja.

"Ya tuanku, patik datang kemari ingin mengadukan nasib hamba ke bawah duli yang dipertuan," jawab si saudagar.

"Katakan maksudmu, supaya bisa kudengar," perintah Baginda Raja.

Saudagar kaya ini bercerita telah bertahun-tahun berumah tangga namun tidak kunjung punya momongan. Allah Subhanahu wa ta'ala belum menakdirkan dirinya memiliki anak.

Maka ia berkata kepada istrinya untuk bernazar kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Jika diberi anak laki-laki akan memotong kambing yang besar dan lebar tanduknya sejengkal, kemudian dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin.

Keinginan itu ternyata dikabulkan Allah Subhanahu wa ta'ala. Istrinya pun hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang sehat walafiat.

Kemudian sang saudagar menyuruh beberapa orang untuk mencari kambing besar bertanduk selebar jengkal, dengan pesan, "Beli saja kambing itu berapa pun harganya, tidak usah ditawar lagi."

Baca juga: Abu Nawas Dikira Gila, Siang Bolong Bawa Lampu Cari Neraka, Kenapa Ya? 

Ternyata usaha tersebut gagal total. Sulit memperoleh kambing dengan lebar tanduk sejengkal. Kambing yang ada paling-paling selebar tiga-empat jari. Akibatnya saudagar itu merasa kesulitan.

Tidur pun tidak nyenyak. Terpikir olehnya untuk mengganti nazarnya tersebut dengan sepuluh ekor kambing sekaligus. Yang penting kan kambing, bukan hewan lain. Namun rencana tersebut akan dikonsultasikan dulu dengan beberapa orang penghulu di negeri itu.

Ia telah mengadu ke seorang penghulu. Pas kebetulan saat ia datang di rumah penghulu sedang banyak orang. Rupanya ada pertemuan para penghulu seluruh negeri.

"Apa maksud kedatangan Anda kemari?" tanya penghulu yang tertua.

"Ya Tuan Qadi. Hamba mempunyai nazar yang sulit dipecahkan," lalu ia menguraiakan kendala yang dihadapi dan rencana penggantiannya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ternyata para Qadi itu tidak berani memberikan rekomendasi untuk mengganti nazar. Mereka bahkan menyuruh saudagar tersebut terus mencari kambing bertanduk sejengkal di mana pun dan ke mana pun sesuai nazar semula.

"Kami semua tidak berani menyuruh menggantinya dengan yang lain-lain," ujar mereka.

Kenyataan itu makin bertambah berat beban saudagar tersebut. Ia pun mohon diri pulang ke rumah. Nah, itu sebabnya dia memutuskan menghadap Baginda Raja.

"Hamba mohon petuah dan nasihat Baginda Raja agar hamba dapat mengerjakan nazar hamba itu dengan sempurna," tutur saudagar itu kepada Baginda dengan nada mengiba.

"Baiklah. Datanglah besok pagi, insya Allah aku dapat memberi jalan keluar," janji Baginda Raja.

Baca juga: Abu Nawas Beri Hadiah Itik Panggang ke Raja, tapi Kok Kakinya Cuma Satu? 

Saudagar itu pun mohon pamit dengan meninggalkan beban bagi Baginda Raja. Dia bingung memikirkan nazar saudagar tersebut. Sepanjang siang dan malam ia tidak dapat memicingkan matanya. Dengan apa nazar itu akan dibayar bila kambing bertanduk sejengkal tidak di dapat juga? Diganti dengan yang lain, haram hukumnya.

Malam harinya Baginda Raja mengumpulkan para Qadi dan alim ulama di istananya. Kepada mereka, Baginda Raja menyatakan keresahan hatinya sehubungan dengan nazar saudagar dari Kopiah itu.

"Tolong berikan pertimbangan kepadaku malam ini juga karena aku sudah telanjur berjanji kepadanya untuk menerimanya menghadap esok pagi, atau aku akan mendapat malu besar."

Suasana balairung pun hening, sunyi senyap berkepanjangan. Mereka termenung dan terpekur memikirkan titah Baginda Raja. Namun, tidak juga ditemukan jalan keluarnya.

"Ya Tuanku Syah Alam, tidak ada hukumnya, baik menurut kitab maupun logika bahwa nazar itu boleh diganti dengan barang lain," setelah itu satu per satu mereka mohon diri meninggalkan balairung dan pertemuan pun bubar.

Baca juga: Raja Diskakmat, Duluan Telur atau Ayam? Ini Jawaban Cerdas Abu Nawas dan Bukti Ilmiahnya 

Baginda Raja lalu masuk istana, hendak tidur, tetapi yang diceritakan tadi, mata Baginda Raja tidak mau diajak kompromi, karena otak masih terfokus pada masalah nazar dan malu besar yang akan dihadapinya esok pagi.

Menjelang subuh, Baginda Raja pun teringat kepada Abu Nawas . "Tidak ada manusia yang dapat memutuskan hal ini selain Abu Nawas," pikirnya dengan suka cita.

Setelah itu barulah Baginda Raja dapat memicingkan matanya, tidur pulas sampai pagi. Begitu bangun, diutuslah penggawa memanggil Abu Nawas.

Setelah Abu Nawas tiba di hadapannya, Baginda Raja pun mengutarakan perihal nazar saudagar dari Negeri Kopiah itu dan semua usaha yang sudah ditempuhnya serta malu besar yang akan didapatnya sebentar lagi, karena para qadi dan orang alim seluruh negeri tidak dapat memberi jalan keluar.

Apalagi sebentar lagi saudagar dari Negeri Kopiah tersebut akan menghadap ke Istana. "Apa pendapatmu tentang hal itu?" tanya Baginda Raja dengan sorot mata ingin tahu jawaban Abu Nawas.

"Ya tuanku Syah Alam, janganlah tuanku bersusah hati, jika tuanku percaya insya Allah hamba dapat menyelesaikan perkara ini," jawab Abu Nawas meyakinkan.

Tidak berapa lama kemudian balairung pun dipenuhi orang-orang yang ingin tahu keputusan Baginda Raja tentang nazar saudagar dari Negeri Kopiah itu.

Baginda Raja memanggil saudagar tersebut dan memerintahkan Abu Nawas memecahkan masalah itu. "Hai saudagar, bawalah kemari anakmu, dan seekor kambing yang besar badannya," kata Abu Nawas.

Baca juga: Selalu Bikin Tertawa, Abu Nawas Diprotes Santrinya: Guru Apa Badut Sih? 

Mendengar perkataan Abu Nawas itu semua orang terheran-heran, termasuk Baginda Raja dan si saudagar itu. "Apa maksud Abu Nawas kali ini?" pikir mereka.

Si saudagar itu menyatakan kesediaaannya membawa anak dan seekor kambing paling besar serta mohon pamit pulang ke Negeri Kopiah. Baginda Raja masuk Istana, melanjutkan tidurnya, dan pertemuan pagi itu pun bubar.

Sesuai janjinya, saudagar itu pun datang kembali ke Bagdad beberapa hari kemudian. Ia membawa istri, anak, dan seekor kambing; langsung menghadap Baginda Raja di istana.

"Datang juga engkau kemari, hai saudagar. Tunggulah sebentar, akan aku kumpulkan penghulu dan rakyat," kemudian Baginda Raja memerintahkan memanggil Abu Nawas.

Akan halnya Abu Nawas, ketika mengetahui dijemput ke istana, ia pura-pura sakit. Baginda Raja yang diberi tahu hal itu memaksa agar Abu Nawas dibawa dengan kereta kerajaan. Maka berangkatlah Abu Nawas ke istana dengan mengendarai kereta kencana yang ditarik dua ekor kuda.

Baca juga: Abu Nawas vs 3 Orang Cerdik, Ditanya Jumlah Bulu Keledai, Jawabannya Ngeselin Banget 

"Mengapa kamu terlambat datang kemari?" tanya Baginda Raja.

"Ya tuanku, patik terlambat datang karena patik sakit kaki," jawab Abu Nawas.

"Hai Abu Nawas, saat ini telah datang kemari saudagar itu bersama istri, anak, dan seekor kambing yang besar badannya. Coba selesaikan masalah ini dengan baik."

"Baiklah akan hamba selesaikan masalah ini."

Bukan main senang hati Baginda Raja mendengar jawaban itu. Abu Nawas menarik kambing dan anak saudagar itu. Jari tangan kiri anak tersebut dijengkalkan ke tanduk kambing dan ternyata sama panjangnya. Baginda Raja dan seluruh yang hadir di balairung heran memikirkan ulah Abu Nawas.

"Ya tuanku, hamba mohon ampun, jika hamba tidak salah ingat, saudagar itu mengatakan bahwa lebar tanduk kambing itu sejengkal. Karena yang dinazarkan anak ini, jari anak inilah yang hamba jengkalkan ke tanduk kambing itu, dan ternyata pas benar. Jadi kambing ini boleh disembelih untuk membayar nazar. Itulah pendapat hamba. Jika salah, hamba serahkan keputusannya kepada Baginda Raja dan semua orang yang hadir di sini."

Baca juga: Ada Maling Kabur ke Barat, Abu Nawas Kok Malah Cegatnya di Timur? 

Baca juga: Supaya Istrinya Tidak Diganggu, Abu Nawas Ajak Para Lelaki Makan Ubi, Apa Hubungannya? 

"Pendapat Abu Nawas aku kira benar," kata Baginda Raja dengan sangat meyakinkan.

Bukan main senang hati saudagar itu karena dapat membayar lunas nazarnya. Maka diberikanlah hadiah kepada Abu Nawas berupa uang 100 dirham. Kemudian ia mohon pamit kepada Baginda Raja, pulang ke negerinya.

Wallahu a'lam bishawab.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini