Share

Gus Mus di Puncak Harlah Ke-99 NU: Ada 2 Jenis Perselingkuhan, Apa Saja?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 18 Februari 2022 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 18 614 2549456 gus-mus-di-puncak-harlah-ke-99-nu-ada-2-jenis-perselingkuhan-apa-saja-888MMOTNRz.jpg Gus Mus. (Foto: YouTube TVNU)

RAIS 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) periode 2014–2015, KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, mengatakan di dunia ini ada dua jenis perselingkuhan yang banyak terlihat. Terlebih lagi bagi generasi muda, sebagian dari mereka kerap melakukannya.

Pertama yaitu perselingkuhan ilmu pengetahuan. Dewasa ini cukup banyak orang-orang berilmu tinggi. Akan tetapi sayangnya, pengetahuannya itu dilakukan tanpa adanya pendampingan. Sehingga ilmu yang didapatkan kebanyakan tidak ada fitrahnya atau bismi rabbika yang bermakna menyebut nama Rabbi (Allah).

Baca juga: Surat Yasin Ayat 1-83: Lengkap Keutamaan, Tulisan Arab, Latin, hingga Artinya 

"Kalau tidak ada masyiatullahnya (segala kehendak Allah), justru akan membahayakan, bukan kemaslahatan yang akan ditebar," ujarnya saat Puncak Peringatan Harlah ke-99 NU secara virtual, Kamis 17 Februari 2022.

Kedua adalah orang-orang yang memiliki titel atau jabatan tinggi. Namun, mereka yang mempunyai pangkat tersebut sebagian bukanlah orang-orang berilmu tinggi.

Baca juga: Surat Al Kahfi Ayat 1-110, Simak Keutamaannya Dibaca Setiap Hari Jumat Berkah 

Kemudian Gus Mus memberikan contoh, jika dulu kebanyakan mereka yang memiliki pangkat tinggi seperti profesor biasanya memiliki kepala yang botak, namun kini banyak ditemukan. Mereka yang tidak lagi memiliki rambut sebagian bukan lagi seseorang memiliki ilmu mumpuni.

"Ini bukan niatnya banyol, itu bukan wilayah kami. Tapi profesor dulu kepalanya botak, tapi banyak sekarang kepalanya botak bukan karena profesor. Salah makan, kebanyakan micin," kata Gus Mus.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Lebih lanjut, tapi bagaimana yang malah menjadi mengerikan adalah masa depan anak bangsa. Apalagi sebentar lagi manusia menghadapi puncak demografi, puncaknya 2035. Sementara pada 2040 generasi emas.

"Maka ini sebuah tantangan. Kami support," pungkas Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, itu.

Wallahu a'lam bissawab.

Baca juga: 8 Sunah di Hari Jumat Berkah yang Miliki Pahala Sangat Besar, Sesuai Tuntunan Rasulullah 

Baca juga: Jadi Mualaf, Profesor Astrofisika Ini Tegaskan Alquran Tidak Kontradiktif dengan Konsep Universal 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini