Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Perbedaan Sholat Tarawih 8 dan 20 Rakaat, Ini Awal Mulanya

Tim Okezone , Jurnalis-Minggu, 03 April 2022 |04:01 WIB
Sejarah Perbedaan Sholat Tarawih 8 dan 20 Rakaat, Ini Awal Mulanya
Sejarah perbedaan sholat tarawih 8 dan 20 rakaat (foto: Okezone)
A
A
A

Hadist ini, menurut ustadz Fauzan Amin, menerangkan bahwa Rasulullah memang pernah melaksanakan sholat Tarawih. Pada malam hari yang kedua beliau datang lagi mengerjakan sholat dan pengikutnya tambah banyak. Pada malam yang ketiga dan keempat Nabi tidak datang ke masjid, dengan alasan bahwa beliau takut sholat Tarawih itu akan diwajibkan Allah melalui wahyu karena umat islam sangat antusias dan bertambah banyak jumlah jamaah sholat tarawihnya.

"Rasulullah melaksanakan sholat Tarawih berjamaah di masjid hanya dua malam dan hukumnya adalah sunnah karena sangat digemari olehnya dan beliau mengajak orang-orang untuk mengerjakannya. Tidak ada penyebutan bilangan rakaat dan ketentuan rakaat sholat Tarawih secara rinci. Sahabat Umar bin Khattab yang punya ijtihad," ujar Fauzan merinci.

Pada zaman sahabat Umar, rakaat sholat tarawih adalah 20 rakaat tanpa witir, sebagaimana yang sudah disepakati oleh umatnya, baik ulama’ salaf atau ulama’ kholaf bahkan ini sudah menjadi ijma’ sahabat dan semua ulama’ madzhab, Syafi’i, Hanafi, Hanbali dan mayoritas Madzhab Maliki. Dalam konteks keindonesiaan, warga Nahdlatul Ulama menerapkan konsep sholat Tarawih ini.

Imam Malik sendiri memilih 8 rakaat namun secara mayorits Malikiyyah sesuai dengan pendapat mayoritas Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah yang telah sepakat bahwa sholat Tarawih terdiri dari 20 rakaat.

Sebagian umat Muslim di Indonesia melaksanakan sholat Tarawih sebanyak 11 rakaat, yakni termasuk tiga rakaat witir juga bisa menjadi pilihan, dengan formasi 4-4-3 (witir). Ada juga yang 11 rakaat dengan formasi 2-2-2-2-2-1 (witir).

"Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, ia bertanya kepada Aisyah RA, 'Bagaimanakah shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan?'

Aisyah RA menjawab, 'Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat, jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian, beliau shalat empat rakaat jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian, beliau shalat tiga rakaat."

(Amril Amarullah (Okezone))

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement