Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

7 Hal yang Meruntuhkan Pahala Puasa, Nomor 1 Tidak Sadar Sering Dilakukan

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 12 April 2022 |07:46 WIB
7 Hal yang Meruntuhkan Pahala Puasa, Nomor 1 Tidak Sadar Sering Dilakukan
Ilustrasi hal yang meruntuhkan pahala puasa Ramadan. (Foto: Reuters)
A
A
A

HAL yang meruntuhkan pahala puasa wajib diketahui setiap Muslim. Tujuannya agar ibadah puasa Ramadan yang dijalani pada tahun ini tidak sia-sia serta menghasilkan pahala berlipat ganda.

Para alim ulama mengungkapkan, banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.

Baca juga: Masuk Islam, Fitria Yusuf Putri Konglomerat Jusuf Hamka Bangun 1.000 Masjid 

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR Ath-Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syekh Al Albani dalam Shahih At-Targib wa At-Tarhib nomor 1084 mengatakan hadis ini shohih ligoirihi yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

Nah, berikut ini hal-hal yang meruntuhkan pahala puasa Ramadan, sebagaimana telah Okezone rangkum.

1. Ghibah

Tidak ada gunanya jika seseorang menahan diri dari memakan makanan yang halal sementara ia memakan bangkai saudaranya. Membicarakan aib saudara diibaratkan dalam Alquran dengan memakan bangkai saudaranya (QS Al Hujurat 49: 12).

2. Mencaci/mencela

Hal ini bertentangan dengan semangat menjaga persatuan, karena cacian atau celaan adalah bentuk dehumanisasi. Puasa, selain memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah Subhanahu wa ta'ala, juga merupakan upaya perbaikan hubungan horizontal antar-sesama manusia.

Maka, Allah Subhanahu wa ta'ala tidak memerlukan puasa seseorang yang menahan lapar dan haus tapi ia tidak menahan diri dari mencela dan mencaci saudaranya, termasuk mereka yang menyakiti hati orang lain dengan mengungkit dan menghina orang yang diberi sedekah. Padahal, Allah Ta'ala telah mengimbau untuk tidak melakukannya dan memberi balasan yang berlipat bagi yang bersedakah dengan baik.

3. Berdusta

Puasa adalah bentuk latihan serius untuk jujur pada diri sendiri. Dalam hadis qudsinya Allah Subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa ibadah puasa hanya untuk Allah Ta'ala, "Aku-lah yang membalasnya."

Jika ia berdusta atau berbohong maka tidak ada gunanya berpura-pura jujur dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, "Siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta maka Allah tak memerlukan perbuatannya meninggalkan makanan dan minuman." (HR Bukhori)

Baca juga: Humor Abu Nawas: Cari Kambing Bertanduk Besar untuk Nazar, tapi Kok Cuma Seukuran Tangan Bayi? 

4. Berbuat Zalim

Secara umum berbuat zalim dilarang. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengharamkan diri-Nya dari berbuat menzalimi makhluk-Nya. Maka, berbuat zalim baik dengan lisan, tangan, kaki, dan berbagai anggota tubuh lainnya kepada orang lain bertentangan dengan spirit kasih sayang, ampunan, serta pembebasan dari murka Allah Ta'ala.

5. Berlebih-lebihan/Tabdzir

Orang yang mubadzir dalam segala hal, baik dalam mengonsumsi makanan atau minuman atau yang lainnya berakibat seseorang mendekatkan persaudaraan dengan setan (QS Al Isra 7: 27). Hal yang bertentangan dengan misi ibadah puasa; mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan menjadi orang-orang bertakwa. Maka dimensi horizontal bertakwa di antaranya adalah dengan memupuk kepedulian dan kepekaan sosial, melalui semangat berbagi dan saling menolong.

6. Bermaksiat

Bermaksiat pada Allah Subhanahu wa ta'ala, seperti tidak menjaga pandangan, pendengaran, mulut, kaki, dan tangan dari yang dimurkai dan dibenci oleh Allah Ta'ala.

Jika telah berusaha secara fisik kemudian diikuti menahan diri dari hal-hal tersebut, serta diperindah dengan hiasan amal baik lainnya, seperti tilawah, sedekah, salat malam, zikir, dan berdoa, maka janji pengampunan dan pahala berlipat dari Allah Subhanahu wa ta'ala menjadi sangat nyata.

Jika dilakukan secara masif dan serentak, maka kebaikan akan bergulir dengan cepat dan ringan. Terealisasilah doa ibadurrahman, "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'." (QS Al Furqan 25: 74)

7. Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa'."

(HR Ibnu Majah dan Hakim. Syekh Al Albani dalam Shahih At-Targib wa At-Tarhib nomor 1082 mengatakan hadis ini shahih)

Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan:

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

"Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan:

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

"Istilah Rofats digunakan dalam pengertian 'kiasan untuk hubungan badan' dan semua perkataan keji."

Al Azhari mengatakan:

الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة

"Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita." Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement