JEDDAH - Inti ibadah haji adalah ketika jamaah haji sudah memasuki periode puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Menjelang periode tersebut, jamaah haji tidak perlu memaksakan diri menjalankan ibadah tarwiyah dengan cara bermalam di Mina sebelum wukuf sampai terbit fajar tanggal 9 Dzulhijjah. Jika memaksakan diri dikhawatirkan, membuat ibadah-ibadah pokok setelahnya jadi terhambat.
"Agama ini memberikan kemudahan, wa ma ja'ala 'alaikum fid din min haraj (Allah tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama). Maka, jangan pernah memaksakan diri apalagi dalam cuaca panas ekstrem seperti sekarang ini, kemudian jalan kaki untuk mengambil sunnah lalu nanti ketinggalan yang wajib," kata Mustasyar Diny (Penasihat Keagamaan) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi KH Zulfa Mustofa kepada Media Center Haji (MCH).
Kiai Zulfa mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu luang yang tersisa untuk memperdalam ilmu dan beribadah di hotel masing-masing. Dia mengharapkan para jamaah haji memperluas wawasan bersama ustadz, pembimbing, atau konsultan ibadah haji di kloter masing-masing agar ibadah yang dijalani memiliki dasar syariat.
Sehingga jangan sampai, mendahulukan hal sunnah hingga terkendala mengerjakan hal wajib seperti orang berburu ikan kecil tapi melepaskan ikan besar.
"Perbanyaklah melakukan ibadah-ibadah yang tidak menghabiskan energi, tenaga. Misalnya, di dalam hotel baca Al-Qur'an, shalat berjamaah, banyak diskusi dan mendalami hal-hal yang terkait fiqih haji," pesannya.
Situasi ini sama dengan terkait Jumat terakhir jelang puncak haji. Dia juga menyarankan memanfaatkan masjid sekitar, tidak harus ke Masjidil Haram.
"Sebaiknya para jamaah karena bus Shalawat sudah dikurangi, shalatlah ke masjid terdekat atau di hotel yang menyediakan masjid untuk shalat Jumat," kata pengasuh Pondok Pesantren Darul Musthafa Jakarta ini.
Apalagi, katanya, para ulama berpendapat bahwa shalat di Tanah Haram, terutama masjidnya di seluruh Tanah Haram, itu sama seperti shalat di Masjidil Haram. Kiai Zulfa mengaku mendasarkan pernyataan ini pada kitab karya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.
"Dalam Islam kita harus memahami skala prioritas karena haji intinya Armina maka sebaiknya para jamaah terkait salat Jumat, salat lah di masjid terdekat atau di hotel yang menyediakan," pesan Kiai Zulfa.
(Dani Jumadil Akhir)