Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Jamaah Haji Indonesia Tersesat di Masjid Nabawi Berkurang

Maruf El Rumi , Jurnalis-Sabtu, 15 Juli 2023 |18:01 WIB
Kasus Jamaah Haji Indonesia Tersesat di Masjid Nabawi Berkurang
Jamaah Haji. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Lebih dari 36 ribu jamaah haji Indonesia telah berada di Madinah untuk melaksanakan kesempatan menjalankan ibadah Arbain di masjid Nabawi. Jumlah tersebut berasal dari 96 kloter yang sebelumnya berada di Makkah melaksanakan rangkaian ibadah haji. Keberadaan jamaah Indonesia bercampur dengan negara lain, sehingga kepadatan di Madinah meningkat.

Kepala Sektor Khusus Nabawi Jasaruddin mengatakan kepadatan jamaah haji masjid Nabawi semakin hari semakin bertambah. Tapi, kondisinya dikatakan Jasaruddin masih terpantau aman dan lancar, apalagi jamaah dari negara luar juga berangsung berkurang karena sudah mulai kembali ke negara masing masing. "Jamaah Negara luar tidak mengenal arbain sehingga paling lama 4 hari di Madinah, kecuali Pakistan. Itupun sebagian (jamaah Pakistan) yang masih meyakini arbain," kata Jasaruddin, Sabtu (15/7).

 BACA JUGA:

Jasaruddin menambahkan, dibandingkan dengan gelombang pertama, kondisi pergerakan jamaah Indonesia di gelombang kedua lebih terkontrol. Terutama dari jumlah jamaah tersesat. Dalam kasus jamaah tersesat di gelombang pertama, mayoritas dalam kondisi masih baik, bisa berjalan sehingga saat ditunjukkan arah hotel bisa memahami dan mengerti.

"Sedangkan di gelombang pertama, itu banyak jamaah tersesat, di samping karena kondisi kurang memungkinkan, juga bukan hanya terpisah dari rombongan, tapi ada yang sakit, jatuh pingsan, menggunakan kursi roda dan lain sebagainya. Tapi untuk gelombang kedua, alhamdulillah sejauh ini jauh berkurang," tambah Jasaruddin.

 BACA JUGA:

Dijelaskan Jasaruddin, selain terkait kondisi jamaah lebih baik, bisa juga disebabkan jamaah gelombang kedua sudah memiliki pengalaman saat berada di Makkah. Mereka sudah paham apa yang harus dilakukan jika tepisah dari rombongan, ketika di Mina bagaimana mereka berjuang sehingga berpengaruh secara psikologis pada jamaah gelombang kedua.

"Intinya, jumlah jamaah haji yang tersesat di gelombang kedua lebih dibandingkan pertama," tegas Jasaruddin. Sebelumnya, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Hilman Latief meminta para petugas mawas diri, jaga-jaga dan mempersiapkan skema agar fenomena tersesat, hilang di jalan yang terjadi pada jamaah bisa diminimalisir. Jangan sampai, jamaah yang pernah tersesat atau hilang di Makkah dan sudah bersama kelompoknya lagi justru hilang lagi di Madinah.

"Kemungkinan jamaah haji tersesat terbuka karena di Madinah sama-sama padat seperti Makkah. Menurut Hilman, di Madinah itu bagi orang yang tidak familiar dengan gerbang dianggap sama semua. Tapi, begitu keluar kok lain, posisi gedungnya, belokannya, sehingga potensi jamaah tersesat menjadi tinggi," ujar Hilman.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement