Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan

Rahman Asmardika , Jurnalis-Selasa, 17 Maret 2026 |11:57 WIB
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
Ilustrasi. (Foto: NU Online)
A
A
A

Antara Hati yang Hidup dan Mati

Al-Qur’an memberikan ilustrasi tentang perbedaan orang yang hatinya hidup dengan cahaya iman dan mereka yang hatinya mati dalam kelalaian. Allah swt berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا  

Artinya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (QS Al-An’am: 122).

Ayat menyadarkan kita bahwa kematian yang paling mengerikan bukanlah perpisahan nyawa dari badan, melainkan padamnya cahaya iman di dalam hati.  

Imam al-Baidawi menjelaskan, Allah membuat perumpamaan ini bagi orang yang Dia beri petunjuk dan Dia selamatkan dari kesesatan. Allah menjadikan baginya cahaya hujah dan ayat-ayat-Nya, yang dengannya ia mampu merenungi hakikat segala sesuatu, sehingga ia bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. (Anwar al-Tanzil, [Beirut,. Dar Ihya al-Turath al-Arabi: 1418 H ], juz II, halaman 180).  

Ramadhan sejatinya hadir sebagai air kehidupan untuk menyiram hati yang gersang agar kembali subur dengan cahaya pembeda tersebut.

Jika di penghujung bulan ini hati kita masih terasa keras, pandangan batin kita masih kabur dalam melihat kebenaran, serta masih berat melakukan ketaatan, maka sesungguhnya kita sedang dalam bahaya besar.  

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement