Inilah yang disebut matinya hati: bukan karena ia berhenti berdetak, tapi karena ia tak lagi mampu memantulkan cahaya Tuhan. Oleh karena itu, tanda hidupnya hati bukanlah kegembiraan yang berlebihan saat lebaran, melainkan kewaspadaan spiritual yang terus menerus.
Imam Hasan al-Basri memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai kondisi batin seorang mukmin sejati, sebagaimana dikutip oleh Abu Nu'aim:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُصْبِحُ حَزِينًا وَيُمْسِي حَزِينًا وَلَا يَسَعُهُ غَيْرُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ بَيْنَ مَخَافَتَيْنِ: بَيْنَ ذَنْبٍ قَدْ مَضَى لَا يَدْرِي مَا اللهُ يَصْنَعُ فِيهِ، وَبَيْنَ أَجَلٍ قَدْ بَقِيَ لَا يَدْرِي مَا يُصِيبُ فِيهِ مِنَ الْمَهَالِكِ
Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin itu pada pagi hari bersedih dan pada sore hari pun bersedih, dan tidak ada kelapangan baginya selain itu. Karena ia berada di antara dua ketakutan: antara dosa yang telah lalu yang ia tidak tahu apa yang akan Allah perbuat padanya (diampuni atau tidak), dan antara ajal yang tersisa yang ia tidak tahu bahaya apa yang akan menimpanya.” (Hilyatul Auliya, [Mesir, Matba'ah as-Sa'adah: 1394 H], juz I, halaman 143).
Jangan Biarkan Cahaya Itu Padam Inilah esensi menghidupkan hati. Ia tidak berhenti berdetak dalam ketaatan hanya karena Ramadhan telah usai. Ia terus waspada, terus berharap, dan terus memoles cermin hatinya dengan istighfar dan amal saleh.
Di penghujung waktu yang mulia ini, mari kita lakukan muhasabah yang jujur. Carilah sudut sepi di malam hari, bersimpuhlah, dan mintalah kepada Allah agar Dia tidak mematikan hati kita setelah memberinya kehidupan selama Ramadhan.