Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Contoh Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026

Rahman Asmardika , Jurnalis-Rabu, 18 Maret 2026 |15:01 WIB
Contoh Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA – Muhammadiyah akan merayakan Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026, sesuai dengan penghitungan metode hisab hakiki wujudul hilal. Berikut contoh khutbah Idulfitri Muhammadiyah dari Muhamad Rofiq Muzakkir (Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, yang dilansir dari laman resmi Muhammadiyah.

Khutbah Idulfitri: Ramadhan, Keunggulan Manusia Muslim, dan Masa Depan Peradaban Islam

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِي أَكْرَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنِ، وَرَزَقَنَا صِيَامَ رَمَضَانَ وَقِيَامَهُ، وَبَلَّغَنَا يَوْمَ الْعِيْدِ وَإِتْمَامَهُ، نَحْمَدُهُ عَلَى الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى جَزِيْلِ الْعَطَاءِ وَالْاِمْتِنَانِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، مِصْبَاحِ الْهِدَايَةِ وَبَابِ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، مَنِ اهْتَدَوْا بِهُدَاهُ فِي الْعَشِيَّةِ وَالْغَدَاةِ.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang dengan limpahan rahmat-Nya telah mempertautkan hati kita dalam balutan iman dan ukhuwah di pagi yang suci ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, sosok pemimpin yang tidak hanya membangun kesalehan individu, tetapi juga meletakkan fondasi transformasi peradaban yang paling gemilang dalam sejarah umat manusia.

Hari ini, di bawah naungan langit Idul Fitri, kita berdiri di ambang pintu kemenangan (al-falah). Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita kepada pola makan yang normal atau perayaan fisik semata. Kemenangan ini adalah keberhasilan kita dalam menyerap seluruh kurikulum terbaik dari Madrasah Ramadan guna melahirkan profil manusia unggul yang siap memikul beban peradaban masa depan.

Sejatinya, tujuan akhir dari pendidikan sebulan penuh ini adalah untuk membentuk jati diri kita sebagaimana perumpamaan indah yang Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25:

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang dengan limpahan rahmat-Nya telah mempertautkan hati kita dalam balutan iman dan ukhuwah di pagi yang suci ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, sosok pemimpin yang tidak hanya membangun kesalehan individu, tetapi juga meletakkan fondasi transformasi peradaban yang paling gemilang dalam sejarah umat manusia.

 

Hari ini, di bawah naungan langit Idul Fitri, kita berdiri di ambang pintu kemenangan (al-falah). Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita kepada pola makan yang normal atau perayaan fisik semata. Kemenangan ini adalah keberhasilan kita dalam menyerap seluruh kurikulum terbaik dari Madrasah Ramadan guna melahirkan profil manusia unggul yang siap memikul beban peradaban masa depan.

Sejatinya, tujuan akhir dari pendidikan sebulan penuh ini adalah untuk membentuk jati diri kita sebagaimana perumpamaan indah yang Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”

Ayat ini merupakan cetak biru bagi manusia unggul. Ramadan adalah proses kita menanam dan memperkuat “akar” iman di dalam jiwa. Jika akarnya tidak tertancap dengan kuat, maka mustahil bagi sebuah bangsa atau peradaban untuk memiliki cabang prestasi dan ilmu pengetahuan yang menjulang tinggi ke langit.

Mengapa Ramadan begitu krusial bagi keunggulan manusia? Secara empirik, ibadah ini merupakan latihan regulasi diri atau self-regulation kolektif terbesar di dunia. Riset dalam psikologi modern, termasuk studi jangka panjang yang dikenal dengan The Marshmallow Test, menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan atau delayed gratification di belakang lebih dapat menjamin kesuksesan jangka panjang seseorang dibandingkan dengan tingkat IQ sekalipun. Artinya, mereka yang terbiasa menahan diri dari kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih besar, melalui proses perjuangan dan pengorbanan, cenderung lebih berpotensi meraih keberhasilan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual semata.

 

Selama tiga puluh hari, lebih dari 1,9 miliar Muslim di seluruh dunia secara serentak melatih fungsi eksekutif otak mereka untuk menahan dorongan dasar seperti makan, minum, dan emosi demi tujuan yang lebih mulia. Secara sosiologis, praktik ini menciptakan modal sosial yang luar biasa berupa kedisiplinan massal, kepedulian kepada orang lain, dan integritas akhlak yang teruji. Inilah fondasi utama sebuah peradaban yang besar; bukan sekadar tumpukan beton dan gedung yang tinggi, melainkan kualitas manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Jika pohon dalam perumpamaan tadi telah mendapatkan nutrisi terbaiknya selama bulan suci, maka Idul Fitri adalah momentum bagi kita untuk membawa akar yang kuat ini keluar dari madrasah menuju medan pengabdian yang lebih luas. Kita harus memastikan bahwa manusia yang lulus dari Madrasah Ramadan bukan hanya sekadar saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga menjadi pribadi yang kompetitif, berintegritas, dan memiliki visi peradaban yang mampu melintasi batas zaman.

Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil-ḥamd.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, di tengah suasana Idul Fitri yang tenang ini, mata hati kita tidak boleh buta terhadap realitas pahit yang sedang mencabik-cabik wajah kemanusiaan. Madrasah Ramadan yang baru saja kita lalui seharusnya menajamkan kepekaan kita terhadap ketidakadilan global. Kita menyaksikan hari ini sebuah tatanan dunia yang retak, di mana arogansi militer dan hipokrasi politik menindas hukum internasional serta nalar kemanusiaan yang paling mendasar.

Genosida yang terjadi di Gaza—kehancuran yang dipaksakan atas rakyat Palestina oleh Israel dengan dukungan penuh negara adidaya Amerika Serikat—adalah luka menganga di tubuh umat manusia. Agresi militer yang kini meluas secara terang-terangan ke Lebanon dan Iran menunjukkan betapa hukum internasional telah kehilangan wibawanya di hadapan kepentingan hegemoni. Fenomena ini mencerminkan sebuah kemunafikan global yang sangat nyata; mereka berbicara tentang perdamaian sambil mengirimkan amunisi penghancur, dan berbicara tentang hak asasi manusia sambil membiarkan jutaan jiwa menderita di bawah blokade, kelaparan, dan rudal balistik.

 

Kondisi para arsitek kerusakan ini telah digambarkan Allah SWT dalam al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 11:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”

Inilah puncak dari kesombongan; melakukan kehancuran sistematis namun mengklaimnya sebagai upaya menciptakan ketertiban. Pengabaian terhadap berbagai resolusi internasional menjadi bukti empiris bahwa keadilan dunia saat ini sedang berada di titik nadir, di mana hukum hanya berlaku bagi mereka yang lemah, namun tumpul di hadapan mereka yang memiliki kekuatan senjata.

Refleksi kita pada hari raya ini tidak akan lengkap tanpa kita menoleh dengan jujur ke dalam diri kita sendiri. Realitas dunia Islam hari ini sungguh memprihatinkan. Di tengah kepungan krisis geopolitik, kita justru terjebak dalam fragmentasi (keterpecahan) yang akut. Umat Islam yang jumlahnya kini mencapai hampir dua miliar jiwa tampak tercerai-berai, kehilangan orientasi sebagai satu tubuh yang saling menguatkan. Sangat menyedihkan ketika kita melihat sebagian kekuatan dunia Islam justru lebih memilih membangun koalisi dengan kekuatan Barat yang memiliki watak penjajah daripada mempererat kerja sama strategis dengan sesama dunia Islam atau mereka yang punya ketulusan menegakkan keadilan.

Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan yang kronis. Banyak pemimpin dunia Islam yang kehilangan visi besar untuk melihat peradaban Islam sebagai sebuah entitas yang bersatu, kuat, dan mandiri. Tanpa persatuan umat Islam serta kemandirian dalam bidang teknologi, ekonomi, dan pertahanan, kita akan terus menjadi penonton di pinggir sejarah, sementara saudara-saudara kita terus menjadi korban dari sistem global yang tidak adil. Ramadan seharusnya mengembalikan kesadaran kolektif kita bahwa kita adalah satu umat yang kuat bukan hanya karena jumlahnya, melainkan karena kesatuan visi peradaban yang kita miliki.

 

Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil-ḥamd.

Apa yang dapat kita lakukan? Apa peran setiap individu muslim untuk mengubah keadaan? Di tengah kepungan krisis global dan kerapuhan persatuan yang kita saksikan, langkah pertama dan yang paling mendasar untuk melakukan perubahan bukanlah dengan sekadar meratapi keadaan, melainkan dengan kembali membangun fondasi utama peradaban: yakni menjadi dan menciptakan manusia Muslim yang unggul. Kita harus menyadari bahwa peradaban tidak pernah dibangun di atas pasir yang rapuh, melainkan di atas kualitas individu-individu yang memiliki keteguhan iman sekaligus keunggulan intelektual. Inilah kunci untuk mengubah nasib umat dari objek sejarah menjadi subjek yang menentukan arah zaman.

Membangun manusia unggul dimulai dengan mengintegrasikan kembali kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dan profesional. Kita memerlukan pribadi yang dahi-Nya sujud di atas sajadah, sadar akan perannya sebagai budak Allah, pada saat yang sama juga pikirannya mampu menaklukkan sains dan teknologi. Secara empirik, sejarah mencatat bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu dimulai dari investasi besar-besaran pada kualitas manusianya, atau yang dalam ekonomi modern disebut sebagai Human Capital. Data menunjukkan bahwa negara-negara yang mampu bangkit dari reruntuhan pasca-perang, seperti Jepang atau Korea Selatan, melakukannya bukan karena mereka memiliki kekayaan alam yang melimpah, melainkan karena mereka memiliki manusia yang memiliki disiplin tinggi, integritas, dan penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Bagi kita umat Islam, modal utama ini sebenarnya sudah tersimpan dalam kurikulum Ramadan yang baru saja kita lalui. Manusia unggul yang kita dambakan adalah mereka yang memiliki kemampuan regulasi diri yang luar biasa; mereka yang mampu berkata “tidak” pada kecurangan meskipun tidak ada yang melihat, dan berkata “ya” pada kejujuran meskipun itu pahit. Inilah kekuatan akhlak yang menjadi mata uang paling berharga dalam membangun peradaban yang berwibawa. Tanpa akhlak individu, bantuan materi dan dukungan politik sebesar apa pun hanya akan menguap dalam lubang korupsi dan inefisiensi.

Lebih jauh lagi, manusia Muslim yang unggul haruslah menjadi pembelajar yang gigih. Kita diperintahkan untuk menjadi umat Iqra’, umat yang membaca realitas dengan kacamata ilmu. Keunggulan kita di masa depan sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menutup celah ketertinggalan literasi dan riset. Kehebatan peradaban Islam di masa lalu, dari Baghdad hingga Andalusia, bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari sebuah sistem pendidikan yang melahirkan manusia-manusia multidisiplin—yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai astronomi, yang ahli fiqih sekaligus pionir dalam ilmu kedokteran.

 

Inilah solusi yang paling fundamental. Ketika kita berhasil mencetak generasi yang memiliki akar iman yang kuat—sebagaimana pohon yang baik tadi yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 24—maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berani melawan kezaliman geopolitik dengan kecerdasan strategi, melawan kemiskinan dengan inovasi ekonomi, dan melawan perpecahan dengan keluasan ilmu dan kerendahan hati. Transformasi besar dunia Islam hanya akan terjadi jika kita memulai berorientasi pada kualitas dari dalam diri setiap individu Muslim.

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar walillāhil-ḥamd.

Keunggulan individu yang telah kita bentuk selama Ramadan tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi semata. Ia harus bertransformasi menjadi energi kolektif yang melahirkan masyarakat berkualitas unggul. Jika individu adalah akar dan batang pohon yang kuat, maka masyarakat adalah hutan yang kokoh, yang mampu menahan badai dan memberikan perlindungan bagi kehidupan. Masyarakat unggul inilah yang menjadi prasyarat mutlak bangkitnya kembali peradaban Islam di panggung dunia.

Pilar pertama dari masyarakat unggul tersebut adalah pendidikan yang melampaui sekadar formalitas ijazah. Kita membutuhkan sebuah ekosistem sosial yang memiliki budaya belajar yang haus akan ilmu pengetahuan dan menghidupkan kembali tradisi riset yang tinggi. Sejarah membuktikan bahwa sebuah bangsa akan memimpin dunia ketika mereka menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kita merindukan masyarakat yang menjadikan perpustakaan dan laboratorium sebagai jantung aktivitasnya, bukan sekadar tempat penyimpanan arsip. Cinta terhadap ilmu harus mendarah daging, di mana setiap fenomena alam dan sosial dibaca dengan riset yang mendalam, karena hanya dengan ilmu pengetahuanlah kita dapat mengelola bumi ini sesuai dengan mandat sebagai khalifah.

Keunggulan intelektual tersebut kemudian harus ditopang oleh kemandirian ekonomi dan etos budaya yang kuat. Kita mendambakan masyarakat yang sejahtera, di mana kesejahteraan tersebut diraih melalui disiplin yang baja dan etos kerja keras yang tak kenal lelah. Ramadan telah melatih kita untuk bangun lebih awal dan mengatur waktu dengan presisi. Secara empirik, tidak ada peradaban yang besar tanpa landasan ekonomi yang mandiri. Masyarakat yang unggul adalah masyarakat yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, produktif, dan tidak membiarkan dirinya terbelenggu dalam jerat kemalasan atau ketergantungan yang melemahkan martabat.

Lebih jauh lagi, masyarakat yang berkualitas harus memiliki integritas sosial-politik yang kokoh. Kita harus membangun tatanan yang bersih dari virus korupsi yang merusak sendi-sendi keadilan. Keunggulan peradaban hanya bisa dicapai jika sebuah bangsa memiliki kemandirian sejati—sebuah bangsa yang berdaulat dan tidak mendiktekan nasibnya kepada kekuatan asing mana pun. Di sinilah peran umat Islam menjadi sangat krusial: kita harus menjadi aktor utama dalam menegakkan keadilan dan perdamaian dunia.

 

Berbeda dengan tatanan global yang sering kali menggunakan standar ganda—di mana mereka berbicara tentang kebebasan namun membiarkan penjajahan—masyarakat Muslim yang unggul harus tampil dengan konsistensi moral yang tinggi. Kita harus menjadi garda terdepan dalam membela yang tertindas tanpa melihat latar belakang, serta aktif menciptakan perdamaian yang didasarkan pada kejujuran dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dengan memiliki masyarakat yang disiplin, berilmu, mandiri secara ekonomi, dan berwibawa secara politik, barulah kita dapat memastikan bahwa cahaya Islam benar-benar menjadi rahmat yang nyata bagi seluruh alam.

Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil-ḥamd.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup dari renungan kita di pagi yang suci ini, marilah kita bawa pulang satu kesadaran besar: bahwa Idul Fitri bukanlah garis finis, melainkan garis start untuk membuktikan bahwa pendidikan Ramadan benar-benar telah mengubah diri kita. Jika Ramadan adalah madrasah, maka hari-hari setelah ini adalah medan ujian yang sesungguhnya. Kita tidak boleh membiarkan akar iman dan kedisiplinan yang telah kita tanam selama sebulan penuh ini layu begitu saja. Sebaliknya, kita harus memastikan bahwa pohon keunggulan dalam diri kita mulai berbuah, memberikan keteduhan bagi keluarga, kemajuan bagi masyarakat, dan martabat bagi peradaban Islam.

Kita telah melihat betapa rapuhnya tatanan dunia ketika arogansi militer dan hipokrasi politik dibiarkan merajalela. Namun, kita juga telah menyadari bahwa kunci untuk melawan kegelapan itu bukan hanya dengan kutukan atau air mata, melainkan dengan kekuatan nyata yang lahir dari manusia-manusia unggul. Dunia Islam tidak akan disegani hanya karena jumlah populasinya yang besar atau sumber daya alamnya yang melimpah, melainkan karena kualitas intelektual, kekuatan akhlak, dan soliditas persatuan umatnya. Inilah jalan panjang yang harus kita tempuh. Inilah perjuangan peradaban yang dimulai dari meja-meja belajar kita, dari kejujuran di tempat kerja kita, dan dari persaudaraan yang melintasi batas-batas kelompok.

Mari kita jadikan spirit Idul Fitri tahun ini sebagai kesempatan untuk mengakhiri krisis kepemimpinan dan fragmentasi umat. Jangan lagi ada koalisi yang melemahkan sesama saudara, jangan lagi ada ego yang menghambat kemajuan bersama. Kita adalah satu tubuh. Luka di Gaza, derita di Lebanon, dan kehancuran di Iran adalah luka kita semua yang hanya bisa disembuhkan jika kita kembali menjadi umat yang kuat, mandiri, dan berorientasi pada masa depan.

 

Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil-ḥamd.

Marilah kita menundukkan kepala sejenak, berdoa dengan hati yang khusyuk dan penuh harap kepada Sang Pemilik Semesta.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, hamdan yuwāfī ni’amahu wa yukāfi’u mazīdah. Yā rabbanā lakal hamdu kamā yanbaghī lijalāli wajhika wa ‘aẓīmi sulṭānik.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Di hari yang fitri ini, kami memohon ampunan-Mu atas segala kekhilafan kami. Terimalah ibadah puasa kami, shalat kami, dan segala amal saleh yang kami upayakan di Madrasah Ramadan. Jadikanlah kami manusia-manusia baru yang memiliki akar iman yang teguh dan visi yang menjulang ke langit keunggulan.

Ya Allah, Ya Qawiyyu Ya ‘Aziz, Berikanlah kekuatan dan kesabaran bagi saudara-saudara kami di Palestina, khususnya di Gaza. Lindungilah mereka dari kezaliman dan arogansi penjajah. Berikanlah kemerdekaan yang hakiki bagi mereka. Ya Allah, satukanlah hati para pemimpin umat Islam, hilangkanlah ego dan sekat di antara kami, agar kami dapat bersatu menjadi kekuatan peradaban yang mampu membela mereka yang tertindas di Lebanon, Iran, dan di seluruh penjuru bumi.

Ya Allah, Sang Pemilik Ilmu, Bimbinglah kami agar menjadi umat yang mencintai ilmu pengetahuan, umat yang berintegritas, dan umat yang mampu memimpin perubahan dunia menuju keadilan. Jangan biarkan kami menjadi umat yang lemah dan terpecah belah. Jadikanlah generasi kami generasi yang unggul, yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang, dan mengubah krisis menjadi kebangkitan.

Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘adhāban-nār. Walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

(Rahman Asmardika)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement