Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apakah Takbiran Harus Dilakukan di Masjid? Berikut Penjelasannya

Rahman Asmardika , Jurnalis-Kamis, 19 Maret 2026 |17:19 WIB
Apakah Takbiran Harus Dilakukan di Masjid? Berikut Penjelasannya
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Mengumandangkan takbir telah menjadi tradisi umat Islam di Indonesia, bahkan di dunia, di malam Hari Raya Idulfitri. Kumandang takbir terdengar dari masjid-masjid, bahkan di jalanan oleh orang-orang yang berpawai menyambut datangnya Hari Kemenangan. 

Anjuran pembacaan takbir ini berlandaskan pada Surat al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dilansir dari NU Online, ayat ini ditafsirkan oleh Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Ath-Thabari sebagai berikut:

  قال أبو جعفر: يعني تعالى ذكره: ولتعظِّموا الله بالذكر له بما أنعم عليكم به، من الهداية التي خذل عنها غيركم من أهل الملل الذين كتب عليهم من صوم شهر رمضان مثلَ الذي كتب عليكم فيه، فضلُّوا عنه بإضلال الله إياهم، وخصَّكم بكرامته فهداكم له، ووفقكم لأداء ما كتبَ الله عليكم من صومه، وتشكروه على ذلك بالعبادة لهُ. والذكر الذي حضهم الله على تعظيمه به، التكبير يوم الفطر

Artinya: "Abu Ja'far (Imam Ath-Thabari) berkata: Makna dari firman Allah Ta'ala tersebut adalah: 'Dan agar kalian mengagungkan Allah dengan berzikir kepada-Nya atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kalian, berupa hidayah (petunjuk) yang tidak diberikan kepada umat-umat lain selain kalian.'

Yaitu umat-umat yang juga diwajibkan atas mereka puasa bulan Ramadhan sebagaimana diwajibkan atas kalian, namun mereka tersesat (dari kebenaran) karena Allah membiarkan mereka tersesat. Sedangkan Allah mengkhususkan kalian dengan kemuliaan-Nya, sehingga Dia memberi kalian petunjuk untuk mengenalnya (Ramadhan), dan memberi kalian taufik untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan berupa puasa.

 

Serta (agar) kalian bersyukur kepada-Nya atas hal tersebut dengan beribadah kepada-Nya. Adapun dzikir yang Allah anjurkan agar mereka mengagungkan-Nya melalui zikir tersebut adalah takbir pada hari Idul Fitri." (Tafsir Ath-Thabari, [Makkah, Darul Tarbiyah wa Turats: tt], jilid. III, halaman 479).  

Imam Thabari menegaskan bahwa takbir di hari Idul Fitri adalah bahasa syukur yang paling murni. Di balik gema suara yang lantang, tersimpan kesadaran batin yang dalam: bahwa kemenangan kita dalam menaklukkan hawa nafsu dan keteguhan menjalankan ketaatan selama Ramadhan bukanlah murni jerih payah pribadi.

Apakah Takbiran harus dilakukan di masjid?

Lalu, muncul pertanyaan: apakah takbiran hanya boleh terbatas di masjid saja, atau boleh juga dikumandangkan di tempat lain? Faktanya, Islam adalah agama yang sangat luwes. Takbir lebaran tidak bersifat eksklusif bagi masjid semata.

Takbir adalah ibadah lisan yang boleh dikumandangkan di rumah, di perjalanan, di pasar, hingga di pusat-pusat keramaian, seperti dijelaskan Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi dalam kitabnya, Fathul Qarib berikut:

ويكبر: ندبا كلٌّ من ذكر وأنثى، وحاضر ومسافر، في المنازل والطرُق، والمساجد والأسواق

Artinya: "Dan disunnahkan bertakbir: bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang sedang berada di rumah (hadhir) maupun yang sedang dalam perjalanan (musafir); (dilakukan) di dalam rumah-rumah, di jalanan, di masjid-masjid, maupun di pasar-pasar." (Fathul Qarib, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 1425 H], hal. 103)

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa takbir tidak hanya sah dikumandangkan di masjid saja, tetapi juga sangat dianjurkan untuk digemakan di sepanjang jalan, di pusat perniagaan, hingga di dalam rumah-rumah keluarga.

Kebebasan ruang ini adalah bukti bahwa syukur atas hidayah Allah harus terpancar di mana pun kaki berpijak. Wallahu a’lam.

(Rahman Asmardika)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement