JAKARTA - Setiap tahun, jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mina untuk melaksanakan salah satu rukun wajib haji, yaitu melontar jumrah (Ramy al-Jamarat). Dengan banyaknya jumlah jemaah yang melemparkan puluhan butir kerikil selama hari-hari Tasyrik, ada ratusan juta batu kecil yang terlontar ke tiga pilar utama (Ula, Wusta, dan Aqabah). Pertanyaan yang sering muncul di benak publik adalah: ke mana perginya gunungan batu kerikil tersebut setelah dilemparkan?
Faktanya, Pemerintah Arab Saudi melalui otoritas terkait memiliki sistem otomatisasi logistik yang sangat canggih untuk menangani hal ini. Proses pembersihan dan pengelolaan batu jumrah tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan melibatkan teknologi infrastruktur bawah tanah yang beroperasi secara seketika (real-time).
Berdasarkan data resmi dari otoritas pengelola Kompleks Jamarat, teater melontar jumrah didukung oleh struktur Jembatan Jamarat multi-lantai yang dirancang khusus. Ketika jemaah menjatuhkan batu ke dalam lubang cekungan di tiap pilar, batu-batu tersebut tidak menumpuk di permukaan, melainkan langsung meluncur ke bawah melalui jaringan vertikal khusus.
Di lantai dasar bawah tanah Kompleks Jamarat, terdapat sistem ban berjalan (conveyor belt) raksasa. Batu-batu yang jatuh akan disaring melalui mesin pemisah otomatis untuk memisahkan kerikil dari benda-benda asing yang tidak sengaja ikut terlempar oleh jemaah, seperti botol plastik, kain, atau alas kaki yang tercecer.
Setelah melewati proses penyaringan dan pemisahan dari sampah, ban berjalan akan mengarahkan batu-batu kerikil bersih tersebut ke ruang penyimpanan besar (bunker) yang terletak di kedalaman fasilitas bawah tanah Kompleks Jamarat. Di dalam ruang kendali ini, terdapat sistem mekanis yang dapat menampung dan mengatur volume batu dalam jumlah masif selama hari-hari puncak ibadah haji.
Setelah musim haji dinyatakan selesai, otoritas kota suci Makkah mengerahkan armada truk dumper berat untuk mengangkut ratusan ton kerikil tersebut dari bunker bawah tanah. Batu-batu ini kemudian dibawa keluar dari kawasan suci Mina menuju area penyimpanan khusus. Berdasarkan kebijakan otoritas setempat, sebagian dari batu-batu ini disiapkan kembali atau dialokasikan untuk kebutuhan penataan fasilitas pendukung di luar kawasan utama ibadah pada musim-musim berikutnya.
Melalui integrasi arsitektur modern dan teknologi pengelolaan berkala ini, Pemerintah Arab Saudi berhasil memastikan bahwa area pilar Jamarat tetap bersih dan aman digunakan dari jam ke jam, mencegah terjadinya penumpukan material yang dapat membahayakan keselamatan jutaan pergerakan jemaah haji.
(Rahman Asmardika)