Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 14 Agustus 2026 |09:05 WIB
Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan
Ilustrasi.
A
A
A

Peringatan dan perayaan kemerdekaan harus mampu menumbuhkan rasa syukur, cinta pada bangsa, menguatkan persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan, dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Perayaan kemerdekaan tidak boleh dilakukan dengan kegiatan penuh kemaksiatan, tidak meningkatkan nasionalisme, dan bersenang-senang tanpa batas. Terlebih, kita dan generasi saat ini tidak ikut serta mengangkat senjata untuk berjuang mengusir penjajah. Hal ini harus menambah rasa syukur kita.

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim: 7)   

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah. Jika Allah memberikan kita nikmat kemerdekaan, maka mari kita gunakan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan. Jika kita diberikan kebebasan, mari kita gunakan untuk membangun bangsa. Jangan sampai nikmat kemerdekaan justru digunakan untuk melakukan kemaksiatan.   

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah

Islam tidak melarang manusia bergembira. Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang selalu muram dan tidak boleh bersenang-senang. Bergembira merayakan kemerdekaan adalah hal yang diperbolehkan. Namun, ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Meriah boleh, maksiat jangan. Mari hindari sikap menormalisasi bentuk-bentuk kemaksiatan dalam rangkaian kegiatan HUT RI. 

Rasulullah telah mengingatkan balasan bagi mereka yang berbuat maksiat dalam haditsnya:

  إِذَا ظَهَرَتْ اَلْمَعَاصِي فِي أُمَّتِيْ عَمَّهُمُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أَمَا فِيْهِمْ يَوْمَئِذٍ أُناَسٌ صَالِحُوْنَ ؟ قَالَ: بَلٰى، قُلْتُ : فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولٰئِكَ ؟ قَالَ : يُصِيْبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ ثُمَّ يَصِيْرُوْنَ إِلٰى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ

Artinya: “Apabila maksiat telah melanda ummatku secara merata, maka Allah meratakan azab kepada mereka. Saya bertanya;”Ya Rasulullah, tidakkah di antara mereka ada orang-orang yang baik?” Rasul menjawab;”Ya”, saya bertanya;”Apa yang mereka lakukan?” Rasulullah menjawab: “Azab itu menimpa mereka sebagaimana yang menimpa manusia ( pada umumnya ), tetapi (di akhirat nanti orang baik yang tidak ikut maksiat ) akan mendapatkan maghfirah dan ridha dari Allah.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement