Jamaah haji tahun lalu, Khatibul Umam (24), coba menceritakan kisahnya. Menurut dia, untuk urusan financial, semuanya benar-benar tergantung pribadi masing-masing. Ada yang doyan jajan, ada yang biasa saja. "Kalau saya sendiri cenderung biasa saja," katanya kepada Okezone. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu melanjutkan, yang cukup terasa pengeluarannya memang pada biaya oleh-oleh.
Untuk urusan itu, Umam menyisihkan sekira 1.000 riyal. Itu pun sudah terbilang cukup. Terkait dengan pedagang Arab Saudi suka dengan jamaah Indonesia, Umam pun membenarkan hal tersebut. Dikatakan Umam, itu karena jamaah haji Indonesia sangat ramah. Makanya pedagang suka dengan masyarakat Indonesia. "Ya, kadang karena terlalu ramah, harga barang pun bisa lebih murah," tambahnya sedikit tertawa.
Untuk urusan financial, ternyata Umam lebih suka pegang uang cash. Sebab, dirinya lebih suka jajan di pedagang kaki lima dibandingkan di toko. Nah, karena lebih suka jajan di pedagang kaki lima, makanya penting bagi Umam pegang uangnya cash.
Mata uangnya pun diungkapkan Umam lebih aman pegang riyal langsung saja. "Walau penukaran uang lokasinya banyak ditemui, tapi, biar meminimalisir kejahatan dan tindakan yang tidak diinginkan, sebaiknya langsung pegang riyal," sambung dia.
"Intinya, sebisa mungkin kita meminimalisir ketidakefisiensian waktu di sana. Sebab, bagaimana pun, niat awal kita adalah untuk ibadah. Jadi, prioritaskan itu dulu baru pusing mikirin oleh-oleh," tambah Umam.
Penuturan berbeda dilontarkan Khalil Gibran, jamaah haji tahun 2014. Dia menuturkan, pengeluaran tersebur justru untuk makan dan transportasi. Hal itu karena cita rasa makanan yang disediakan pemerintah, menurut dia, kurang membuatnya berselera.
“Selain dapat uang living cost 1.500 riyal, saya menambah uang saku sekira 500 riyal atau Rp 1,775 juta per orang,” jelas Gibran.
Gibran yang berangkat bersama kedua orang tua dan seorang adiknya ini mengalokasikan sekira 90% gabungan uang living cost tadi dengan uang pribadinya untuk transportasi dan membeli makanan. Keluarga Gibran kebanyakan membeli makanan utama di Makkah hampir setiap hari.
“Kami kurang sreg dengan rasa makanan katering jatah haji reguler di Makkah karena kurang enak,” jelas Gibran.
Sementara, di Madinah, ia dan keluarga selalu makan jatah katering reguler karena cita rasanya masih sesuai lidah orang Indonesia. Sisa uang saku tadi sekira 10% dialokasikan untuk membeli oleh-oleh haji untuk kerabat dan tetangga.
(Muhammad Saifullah )