Kisah Bukit Shafa dan Penolakan Abu Lahab

Rafida Ulfa, Jurnalis
Sabtu 25 Agustus 2018 07:02 WIB
Share :

Menurut riwayat, waktu itu hadirin sempat terdiam mendengar seruan Nabi AS. Abu Lahab yang ternyata hadir sekalipun diam mukanya menunjukkan kebecian. Akhirnya sebagian hadirin meninggalkan tempat tersebut dan sebagian lagi menunggu Nabi AS selesai menyampaikan seruanya.

Merasa tidak puas hanya berdiam diri, Abu Lahab berteriak dengan congkaknya. "Hai orang-orang keturunan Abdul Muthalib! Demi Latta dan ‘Uzza. Sesungguhnya Muhammad itu jahat! Cobalah kalian menariknya dan membawanya ke sini. Kamu semua hendaknya melarang dia berkata-kata seperti itu! Sebelum dia ditangkap dan dipenjarakan oleh seluruh bangsa lain, lebih baik kita sendiri yang memenjarakannya. Dia orang muda yang telah berubah ingatannya! Jika kalian mengikuti dia maka kalian akan menjadi orang yang hina dina. Jika kalian menuruti dia, maka kalian akan diperangi oleh bangsa lain kelak!"

Mendengar Abu Lahab berbicara demikian, bibi Nabi Shafiyyah binti Abdul Muthalib (saudara perempuan Abu Lahab), menegurnya,"Wahai saudara laki-lakiku, apakah sangkaanmu kepada anak laki-laki dari saudara laki-lakimu itu (Muhammad SAW) sudah sepantasnya demikian? Demi Allah! Tidakkah para kepala agama-agama terdahulu telah memberitakan kepada kita dari keturunan Abdul Muthalib akan ada seorang bergelar nabi dan rasul Allah? Dan orang itu tiada lain dan tiada bukan adalah Muhammad adanya.”

Mendengar pernyataan lemah lembut Shafiyyah, Abu Lahab kian bertambah marah. “Demi berhala Latta dan 'Uzza. Itu adalah dongeng dusta! Itu adalah cerita kosong! Hendaknya kalian tangkap saja Muhammad sebelum bangsa Arab bersatu untuk memerangi kalian! Jika bangsa Arab dan suku Quraisy lainnya melawan Muhammad, dia bisa apa? Apa kekuatan Muhammad? Apa daya Muhammad untuk melawan musuh-musuhnya? Apa senjata Muhammad dan kawan-kawannya untuk melawan musuh? Tidak lain Muhammad akan ditelan kepalanya mentah-mentah oleh orang-orang Quraisy.”

Kini, giliran Abu Thalib yang merasa tidak senang terhadap ucapan keji Abu Lahab. Dengan lantang, ia membela Muhammad SAW, keponakannya itu. "Sungguh! Akulah yang akan menghalanginya selama aku masih hidup!"

Mendengar jawaban setegas itu, Abu Lahab tidak berkata apa-apa. Namun pertemuan menjadi kacau karena terjadi mulut antara yang mendukung dakwah Nabi AS dengan yang menolaknya. Pertemuan itu pun akhirnya bubar karena terjadi adu mulut antara yang mendukung dakwah Nabi AS dengan yang menolaknya. Pertemuan itu pun akhirnya bubar.

Pada tahapan berikutnya, Nabi AS menyeru penduduk Mekkah secara lebih terang-terangan. Dakwah tersebut disampaikan kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial, suku bangsa, ataupun jenis kelamin. Ketika Nabi mulai melancarkan dakwahnya, muncullah beragam respons dari kaum kafir Quraisy. Namun, sebelum wahyu berisi celaan terhadap tuhan-tuhan mereka turun, kaum musyrikin Quraisy tidak terlalu menghalangi jalan dakwah beliau. Baru setelah itu, mereka menampakkan sikap permusuhan yang nyata dengan Nabi Muhammad SAW.

Imam Thabari meriwayatkan dari 'Urwah bin Zubair, "Ketika pertama kali Rasulullah mengajak kaumnya untuk mengimani ajaran yang dibawanya, masyarakat Quraisy belum bersikap menjauhi beliau. Mereka tampak mendengarkan saja tanpa merespons. Namun kondisi ini mulai berubah, ketika beliau mulai mengkritik kesesatan yang dijalani kaum Quraisy. Ada sebagian masyarakat Quraisy yang datang dari Thaif dengan membawa banyak harta, tidak senang dengan kritikan Rasululah. Mereka kemudian melontarkan kritikan yang sangat tajam bernada kebencian. Mereka juga mencela kalangan yang bersikap loyal terhadap beliau.

Sebenarnya, karena akidah syirik yang menjadi keyakinan masyarakat Quraisy tidak memiliki dasar yang kuat, mereka sempat kebingungan berdalih dalam mempertahankan akidah yang diyakininya itu. Hal ini tampak jelas, ketika Al-Quran mengkritik akidah mereka, tidak ada satupun pemikiran mereka yang dapat menjawab kritikan tersebut (Syakir: 2005).

Akidah kaum musyrikin Quraisy memang tidak mempunyai pondasi dan arah pemikiran yang jelas. Selain itu, masih menurut catatan Syakir, tidak ada seorang pun di kalangan masyarakat musyrik Quraisy yang benar-benar dapat dikategorikan sebagai pemuka agama yang berusaha mempertahankan akidah leluhur yang mereka yakini.

Pertanyaannya; apa alasan yang sangat mendasar sehingga para pembesar musyrik Quraisy menentang keras dakwah Nabi? Para penulis sejarah mencatat, Quraisy khawatir mereka akan kehilangan keuntungan ekonomi yang sangat erat dengan posisi mereka sebagai penjaja tradisi kejahiliyahan dan paganisme.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya