Kisah Perempuan Indonesia 13 Tahun Jadi Pelayan Masjid Nabawi

Amril Amarullah, Jurnalis
Sabtu 01 September 2018 20:31 WIB
Perempuan Indonesia yang 13 tahun bekerja di Masjid Nabawi. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)
Share :

Bukan hanya Murtiah, orang Indonesia lainnya yang bekerja di Masjdi Nabawi adalah Kusno. Pria asal Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, ini baru 5 tahun bekerja.

Kusno pada awalnya sangat menginginkan sekali bisa bekerja di Masjidil Haram, Makkah. Meski akhirnya ditempatkan di Masjid Nabawi, dia tidak mempersoalkan.

"Dua tempat itu (Masjidil Haram dan Nabawai) adalah wilayah suci, jadi menurut saya sama saja, dan alhamdulillah masih bertahan hingga saat ini," beber Kusno.

Ia punya cerita sendiri ketika bekerja di negeri orang. Selain untuk pengalaman, juga menambah wawasan bahasa, lantaran setiap hari bergaul dengan pekerja lain yang berbeda bahasa juga, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Arab Saudi sendiri.

Kusno menyebut di Masjdi Nabawi terdapat sekira 200 pekerja dari Indonesia, termasuk yang bekerja sebagai office boy dan pembersih toilet.

Masing-masing pekerjaan dan tanggung jawab yang dikerjakan memiliki identitas yang dicirikan melalui seragam berbeda-beda. Ia mencontohkan, petugas kebersihan mengenakan seragam berwana hijau, bagian kelistrikan khusus pengontrol elevator menggunakan biru tua kehitaman, bagian kelistrikan khusus kipas angin dan lampu berseragam biru muda.

Warna merah muda adalah yang biasa ditemukan di halaman masjid, toilet, atau tempat wudu. Pakaian warna hijau adalah mereka yang sering ditemukan membersihkan lantai di sekitar galon misaaki zamzam, warna coklat adalah pembersih pelataran masjid dan lantai.

Mereka yang berbaju abu-abu disebut musahhif, tugasnya menata mushaf Alquran yang jumlahnya setara dengan tampung Masjid Nabawi,yakni 500 ribu mashaf. Kalau coklat muda itu murakkib, pengawas atau mandor. Semua mandor harus bisa berbahasa Urdu dan Arab.

Jenjang karier dan warna baju ini juga berlaku untuk hadimaat atau pelayan masjid di area wanita. "Masjid Nabawi ini sangat ketat menerapkan pemisahan antara laki-laki dan perempuan," tuturnya.

Gaji memang terbatas, tapi ketika musim haji mereka mendapat rezeki yang tak terkira, dan bahkan setiap bulan ada donatur yang memberikan uang tambahan.

(Hantoro)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya