SELAMA bulan Ramadan, tingkat kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan signifikan. Barang konsumsi tersebut naik seiring permintaan konsumen kelas menengah yang menjadikan produk konsumsi sebagai bingkisan lebaran.
Menurut laporan Kantar World Panel, pemberian hadiah yang biasa disuguhkan dalam bentuk parsel memegang kontribusi terbesar hingga 95% dalam penjualan produk konsumsi atau disebut sebagai fast moving consumer good(FMCG).
Produk kebutuhan sehari-hari yang kerap dikemas dalam bingkisan parsel seperti makanan kering dan minuman, perawatan rumah, dan kebutuhan pribadi tumbuh pesat di antara produk-produk lain. Beragam jenis produk konsumsi yang menjadi favorit masyarakat di saat Ramadan di antaranya makanan ringan, minuman, kosmetik, pakaian, gula, susu, dan perlengkapan beribadah.
Baca Juga: Hampir Setengah Abad, Bibi Lung Masih Tampil Awet Muda
Consumer Behaviour Expert Yongky Susilo menjelaskan, tren penjualan produk konsumsi biasanya naik mulai April hingga mendekati Idul Fitri saat tunjangan hari raya dan gaji dikucurkan. Pertumbuhan produk favorit tetap pada barang konsumsi seperti biskuit, sirup, hingga kosmetik. “Sebulan sebelum puasa biasanya yang naik penjualan bahan masakan. Setelah itu baru bahan membuat kue. Minggu terakhir baru fokus pada personal care,” tuturnya kepada KORAN SINDO.
Yongky yang juga merupakan board expertHippindo dan Aprindo ini mengungkapkan, pada tiga tahun terakhir belanja untuk kebutuhan Lebaran meningkat di minggu ketiga Ramadan atau mendekati hari raya. Akibatnya, terjadi penurunan pertumbuhan produk konsumsi Lebaran yang sebelumnya tumbuh 30%, namun tiga tahun terakhir hanya sekitar 7%. “Tiga tahun terakhir hanya 7% karena memang ekonomi sedang ketat dan fokus konsumen juga sekarang pada gadget dan travel,”ungkapnya. Di kuartal pertama 2018, pertumbuhan penjualan produk konsumsi hanya single digit.
Namun, memasuki kuartal kedua 2018 mulai meningkat karena banyak insentif dari pemerintah seperti pemberian bonus kepada ASN. Jika dibandingkan pola konsumen produk konsumsi Indonesia dan negara lain memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dengan negara maju. Yongky menuturkan, bila ekonomi suatu negara dikatakan maju, maka peran saat perayaan hari tertentu akan semakin kecil ke arah produk konsumsi. “Konsumen yang daya belinya naik, mereka fokus pada tamasya, menginap di hotel, makan enak di restoran. Beli baju tidak harus menunggu THR karena sepanjang tahun mereka bisa membelinya,” tuturnya.
Yongky mengharapkan, ke depan THR di Indonesia akan dipakai untuk hadiah seperti membeli mainan ataupun gadgetseiring perubahan konsumsi masyarakat menuju arah indulgence category. Direktur Marketing Kantar World Panel Fanny Murhayati mengatakan, ketika penurunan frekuensi mulai pulih, konsumen membatasi konsumsi mereka untuk melihat banyak kategori produk konsumsi lain yang lebih menarik. “Banyak promosi dalam kategori perawatan rumah dan kebutuhan pribadi yang lebih menarik sehingga dalam perjalanan konsumen mencari suatu produk mereka akan menemukan sesuatu yang baru dan kemudian tertarik untuk membelinya,” ujar Fanny.
Fanny mengungkapkan, perilaku ini dipimpin oleh kelas atas sementara kelas menengah ke bawah tetap menunjukkan kecenderungan untuk cara belanja tradisional. Namun, setengah dari kategori FMCG dipastikan masih tumbuh positif dan 22% di antaranya masih mampu menarik lebih banyak pembeli. Sedangkan momen Ramadan dan Lebaran, Kantar World Panel mencatat pada 2018 pertumbuhan sangat terbatas karena deflasi harga yang cukup dalam. Namun, sejumlah unit tumbuh secara eksponensial dibandingkan dengan sebelumnya.
Baca Juga: Potret Menggemaskan Lakeisha Dardak, Anak Arumi Bachsin yang Fasih Bahasa Jawa
Konsumen, menurutnya, juga menunjukkan kecenderungan untuk menabung lebih banyak daripada membelanjakannya, berkontribusi pada pertumbuhan nilai terbatas pada periode perayaan tahun lalu. Dalam laporan tersebut dijelaskan, tingkat inflasi yang lebih rendah dikombinasikan dengan dorongan besar dari manufaktur sebelum Ramadan benar-benar menciptakan kenaikan tertinggi. Tepatnya, menurut Fanny, sembilan minggu sebelum Ramadan, yang berarti konsumen melakukan pengeluaran, berbelanja persediaan puasa jauh lebih awal karena ikut serta dalam program promosi dari pengecer modern.
“Bahkan pengecer minimarket yang berkembang telah mulai memperkenalkan promosi tema Ramadan guna mendorong tren ini,”tambahnya. Kategori produk konsumsi sangat banyak dilakukan melalui promosi dan lebih dari sebelumnya pada 2018. Hal tersebut yang membuat pelanggan melakukan pembelanjaan sesuai dengan kebiasaan mereka selama ini seperti warung tradisional, pasar, dan lainnya. Namun, pada akhirnya masyarakat banyak yang memilih berbelanja di ritel modern karena terpikat promosi. Menurut Fanny, jika dilihat dari masyarakat kategori menengah dan bawah menjelang Ramadan dan saat Ramadan, mereka tidak menambah jenis produk konsumsi dalam kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan masyarakat kelas atas terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang memilih menghabiskan pengeluaran di luar kebutuhan produk konsumsi atau golongan yang meningkatkan jumlah konsumsi mereka di dalam untuk melengkapi kebutuhan produk konsumsi. Untuk daerah di Indonesia dengan produk barang konsumsi yang mengalami peningkatan antara lain adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera. Sedangkan wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan Kalimantan mengalami penurunan pertumbuhan.
(Dinno Baskoro)