Atas komentar tersebut, Allah SWT kembali menurunkan ayat :
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40).
Zainab adalah tempat berlabuhnya para anak yatim dan janda. Ia adalah istri Nabi yang paling dermawan. Zainab menghabiskan siang hari dalam mihrab dan selalu bangun pada tengah malam. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Umar Bin Khathab, "Sesungguhnya Zainab binti Jahsy adalah wanita awwahah." Kemudian seorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu awwahah?” Beliau menjawab, “Seorang yang khusyuk dan tadharru (rendah diri) kepada Allah SWT. Setelah itu beliau membaca ayat :
نَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ
Artinya: Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi awwah (penghiba) dan suka kembali kepada Allah.
Kedudukan Sayyidah Zainab binti Jahsy di sisi Rasulullah mampu menyaingi Sayyidah Aisyah. Meskipun Aisyah sangat cemburu kepada Zainab, tetapi ia tidak pernah mengatakan tentang Zainab selain yang baik-baik.
Ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang wanita pun yang lebih baik agamanya, lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur kata-katanya, lebih senang menjalin hubungan silaturahmi, lebih banyak sedekahnya, dan lebih rela mengorbankan diri untuk melakukan amal untuk bersedekah dan ber-taqarrub kepada Allah SWT dibandingkan dengan Zainab." Kata-kata Aisyah ini tidaklah keliru karena ia adalah wanita yang tumbuh dalam madrasah al-Qur'an, menimba ilmu dari Rasulullah SAW, meniru tata krama beliau, dan menyerap kemuliaan akhlak beliau.
Zainab r.a. adalah wanita yang dermawan dan baik. Ia biasa melakukan sendiri apa yang bisa ia lakukan. Zainab biasa menyamakan kulit, menjahit pakaian, dan bersedekah di jalan Allah untuk kaum miskin.
Ketika mendengar rintihan Zainab (saat hendak wafat), Aisyah mengatakan, "Wanita yang terpuji, ahli ibadah, dan tempat bernaungnya para yatim dan janda itu telah pergi. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para istrinya: 'Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.
Setelah Rasulullah SAW wafat, kami (para istri beliau) ketika berkumpul sama-sama memanjangkan tangan di dinding untuk mengukur tangan siapa yang paling panjang. Hal itu kami lakukan terus-menerus hingga Zainab binti Jahsy wafat, padahal tangannya bukanlah yang terpanjang di antara kami.
Dari sini, kami pun tahu bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan oleh Rasulullah adalah kemurahan dalam bersedekah. Zainab adalah wanita yang terampil menyamak, menjahit, dan rajin bersedekah di jalan Allah."
Ketika menjalani detik-detik sakaratul maut, Zainab berkata, "Aku telah menyiapkan kain kafanku dan Umar bin Khathab akan mengirimkan satu kafan lagi untukku. Karena itu, sedekahkanlah salah satunya! Jika (kalian) bisa menyedekahkan hakku, yakni kain sarungku, lakukanlah!"
Ajal telah menjemput dan Zainab binti Jahsy pun kembali ke pangkuan Allah SWT pada tahun 20 H dalam usia 54 tahun. Jenazahnya disalatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khathab r.a. dan diiring oleh penduduk Madinah al-Munawwarah menuju Baqi'. Ia adalah istri Rasulullah yang paling dahulu menyusul beliau.
Sumber: Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam
https://kisahmuslim.com/6183-ummul-mukminin-zainab-binti-jahsy.html
(Renny Sundayani)