Dalam sebuah pengajian kitab yang terbuka untuk umum beberapa tahun lalu, almarhum Mbah Moen ketika memberi pengantar tentang kealiman para tokoh di balik kitab tersebut. Tiba-tiba beliau berseloroh kepada Gus Baha’ yang waktu itu juga hadir. “Nek kowe karo aku pinter endi, Ha?"
Dengan tersenyum, Gus Baha menjawab spontan, “Pinter kula sekedhik, Mbah.”
Mbah Moen pun tertawa. Demikian juga para hadirin. Seloroh itu menunjukkan kedekatan Mbah Moen dengan salah satu santrinya yang punya kadar kealiman mendalam.
Gus Baha banyak mendapatkan ilmunya dari Mbah Moen. Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha pernah membahas, seorang kiai yang bijak tidak pernah membedakan antara santri pintar dan santri bodoh. Kiai yang bijak itu tentu saja Mbah Moen.
Cara pandang seperti itu juga diamini dan diyakini oleh Gus Baha sendiri. Itu bukan hanya perkara menghargai santri sebagai sesama makhluk Tuhan. Ada perkara lain.
Begini, kalau santri yang pintar, tentu saja menonjol. Kalau menonjol, tentu saja mudah terkenal. Kalau mudah terkenal, tentu saja punya akses terhadap apapun, baik itu secara ekonomi maupun politik.
Hasilnya karir santri pintar seperti ini ujung-ujungnya adalah ‘berpolitik’. Bukan menjalankan laku sebagai orang alim yang mengajar mengaji.
Sementara itu kalau santri ‘bodoh’ atau santri kurang pintar akibatnya tidak terkenal, tidak menonjol, dan tidak punya akses kepada ekonomi, politik, apalagi kekuasaan.
Makanya santri 'bodoh' lebih memilih pulang ke kampungnya atau tinggal di kampung lain. Biasanya, di kampung, santri 'bodoh' itu menjadi sosok yang paling pintar.
Dia kemudian mengajar mengaji, jadi imam di masjid atau langgar, bikin pondok kecil, atau hal lain semacam itu sehingga ilmu yang didapatnya berbelas tahun di pondok menjadi berguna bagi umat Muslim di sekitarnya.