Allah SWT Melarang Umat Muslim Memaki Agama Lain

, Jurnalis
Senin 19 Agustus 2019 11:12 WIB
Islam mengajak umatnya berbuat kebajikan (Foto: Shutterstock)
Share :

Dalam Alquran sudah dikisahkan kalau perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang telah digariskan Allah SWT. Tuhan sudah menciptakam manusia berbeda-beda, termasuk mempunyai perbedaan agama, keyakinan, dan kepercayaan.

 

Demi terciptanya keamanan dan kehidupan yang harmonis, agama Islam memberikan aturan-aturan yang berkaitan dengan sikap toleran antar umat beragama. Di antaranya ialah larangan untuk mencela atau mencaci maki hal-hal ‘sakral’ agama dan kepercayaan pihak lain. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 108)

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut Allah SWT melarang Rasulullah SAW dan seluruh umat Islam untuk mencela dan memaki sesembahan orang-orang musyrik. Karena dari celaan dan caci-maki itu akan berpotensi menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, yakni serangan caci-maki dari orang-orang di luar Islam.[1] Sebagaimana peristiwa asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tersebut.

Apabila dinalar sesuai tabiatnya, manusia memiliki naluri dasar akan kepercayaan fundamental. Tak heran, manusia akan sangat mudah terpancing emosinya apabila agama atau kepercayannya disinggung.

Seperti dilansir dari website Ponpes Lirboyo, pada dasarnya agama bersemi dari dalam hati penganutnya. Di sisi lain, hati adalah sumber emosi.

Berbeda halnya dengan pengetahuan yang lebih mengedepankan akal dan pikiran. Oleh karena itu seseorang dengan mudah mengubah pendapat ilmiahnya namun sangat sulit mengubah kepercayaannya.

Meskipun kekeliruan jelas terpampang nyata di hadapannya namun sulit manusia untuk menerimanya kalau sudah berkaitan dengan sebuah kepercayaan.

Di satu sisi, yang dihasilkan dari mencaci-maki adalah suatu keburukan. Caci maki hanya menimbulkan sifat antipati terhadap pelakunya.

Oleh karena itu, caci maki sangat tak pantas dilakukan oleh umat Muslim kepada umat agama lain. Umat Muslim adalah umatnya Rasulullah mereka harus meneladani sikap Rasul yang selalu menjaga lidah dan tingkah lakunya. Termasuk tak menyakiti penganut agama lain.

Perbedaan merupakan keniscayaan yang sulit dipungkiri. Apabila tidak ada kesadaran akan hal itu, niscaya perbedaan akan selalu dibenturkan.

Bahkan ini bisa berpotensi menyulut api konflik antar golongan. Maka, sikap toleran dan saling menghormati merupakan kunci utama dalam membangun kehidupan yang harmonis, aman dan tentram di tengah perbedaan yang ada.

Jangan sampai Indonesia hancur seperti negara-negara di Timur Tengah yang kurang bersatu. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa selamanya, amin!

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya