Riyadhus Salihin merupakan nama sebuah kitab yang didalamnya terdapat kumpulan hadist Nabi Muhammad SAW. Riyadhus Salihin artinya orang-orang yang saleh, dikarang oleh Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy (Imam Nawawi).
Kitab ini biasa diajarkan pada santri oleh para kyai di pesantren-pesantren. Bentuknya kitab kuning dengan arab gundul sehingga para santri harus benar-benar memberi harkat dan artinya, serta memahami maksud dari isi kitab tersebut.
Riyadhus Shalihin berisi kumpulan hadist-hadist sahih Rasulullah SAW. Kitab ini wajib kita pelajari agar bisa hidup sesuai sunah Rasul.
Di dalamnya terdapat berbagai hadist untuk membimbing dan menata jiwa seorang Muslim. Isinya menyentuh banyak aspek kehidupan hingga sosial.
"Membaca Kitab Riyadhus Shalihin itu membimbing, tiap babnya (mudah dipahami) terdapat hadist-hadist shahih, tentang taubat, sabar, istiqamah. Riyadhus salahin juga melatih nilai-nilai kehidupan kita," kata Ustadzah Nurul Hidayati beberapa waktu lalu.
Ustadzah Nurul juga mengatakan, setelah mempelajari dan menghayati kitab ini dia dapat merasakan sangat terbantu dengan kehidupan sehari-harinya.
Kemudian, setelah mengamalkannya dengan cara berdakwah, semakin mendapat kemudahan dalam menata hati.
"Namun setelah saya berdakwah saya merasakan kemudahan itu, dengan mengajarkan apa yang sudah saya hayati," katanya.
Tapi kini Riyadhus Shalihin sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga umat Muslim bisa dengan mudah membacanya. Namun tentunya untuk mempelajari kitab satu ini dengan bimbingan seorang guru.
Anda bisa mudah mempelajari Riyadhus Shalihin ini dengan membaca syarah-nya. Sudah diterjemahkan dan dijelaskan maksud isi kandungan kitab satu ini. Selain itu, kitab ini juga memiliki keistimewaan lain, yakni kedudukannya yang cukup tinggi.
Kedudukan kitab ini memang cukup tinggi karena begitu luasnya pemahanan Imam Nawawi terhadap sunah Rasulullah SAW.
Pembuatan tiap bab pembahasannya pun dia bagi ke dalam beberapa kitab. Kemudian dibagi ke dalam beberapa bab dan hadistnya pun dijadikan sebagai judul yang menunjukan permasalah khusus, sebab tiap-tiap hadist bermakna berbeda.
(Dyah Ratna Meta Novia)