Kisah Mualaf, Dorongan Sang Putra Membuat Mantan Petinju Masuk Islam

Novie Fauziah, Jurnalis
Rabu 04 Desember 2019 14:31 WIB
Ilustrasi ayah dan anak (Foto: Pinterest)
Share :

Luis Lopez, 41 tahun, seorang sopir truk dan mantan petinju profesional dari North Bergen berusaha melawan perasaan groginya saat berjalan menuju pusat ibadah di Union City dengan putranya Luis, 21 tahun. Bersama, mereka berdua mengucap kalimat syahadat sebagai syarat sah ketika seseorang ingin memeluk Islam dan menjadi mualaf.

"Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah," kata Lopez dan putranya mengucapkan kalimat syahadat di sebuah masjid yang dulu merupakan rumah bagi komunitas Kuba di Amerika Serikat. Akhirnya mereka berdua resmi menjadi mualaf.

 

Seperti dilansir USA Today beberapa waktu lalu, setelah ia resmi masuk Islam, Lopez merasakan adanya kedamaian di dalam jiwanya.

Ini berbeda dengan suasana 22 tahun lalu di mana ia hidup di tengah-tengah kelompok geng yang membuatnya hidupnya kacau dan berantakan.

Bahkan saat menjadi anggota geng ia kehilangan arah hidupnya. Ia juga semakin jauh dari Tuhan.

Namun ia punya sahabat seorang muslim. Bahkan sahabatnya meyakinkan dia bahwa dia pasti diterima jika mau masuk Islam dan datang ke masjid.

"Mereka mengatakan kepadaku, datanglah ke masjid. Kamu akan diterima dengan baik," ujar Lopez.

Ternyata itu merupakan sebuah kebenaran. Lopez diterima dengan baik di masjid. Komunitas muslim juga menerima kehadirannya dan putranya

Lopez dan putranya Luis merupakan bagian dari orang Latin yang masuk Islam. Sebanyak 8 persen muslim di Amerika Serikat adalah orang Latin.

Data ini berdasarkan laporan Pew Research Center 2017. Jumlahnya meningkat sepertiga dari tahun 2011.

Lopez sendiri pindah dari Puerto Rico ke Amerika Serikat saat masih kecil. Sahabatnya merupakan muslim yang dikenalnya saat ia menjadi petinju.

Dua hal yang memicunya untuk memutuskan menjadi mualaf. Yakni penusukan anggota gengnya pada 1997 dan kelahiran anaknya setahun kemudian.

Sahabatnya memintanya untuk ke masjid dan mulai belajar Islam. Namun sesungguhnya dorongan dari putranya yang akhirnya membuatnya memutuskan masuk Islam.

Luis saat ini merupakan mahasiswa. Ia mengaku tertarik pada Islam karena fokusnya yang hanya menyembah Allah SWT saja. Sifat monoteismenya yang membuatnya menyukai agama Islam.

Sebanyak 94 muslim Latin menyukai hubungan langsung dan personal antara hamba dengan Tuhan-Nya. Ini menurut laporan The Journal of Race, Ethnicity, and Religion pada 2017.

"Sejak orang-orang memandang kami sebagai muslim, mereka menemukan kegembiraan di dalamnya. Mereka terlihat bahagia melihat kami jadi mualaf," ujar Luis.

"Semua boleh berkata apa saja. Namun bagi saya tak perlu ada rasa takut, apalagi jika melakukan hal yang benar," tambah Luis.

Kebanyakan orang Latin masuk Islam karena mereka melihat kedekatan antara hamba dengan Tuhannya. Namun memang tidak mudah menjadi mualaf sebab banyak yang menentangnya, terutama keluarga. Terkadang keluarga tak terima dengan perpindahan agama tersebut.

Peningkatan islamofobia di media membuat muslim berusaha menunjukkan kalau mereka tak seperti gambaran media. Mereka juga mengisahkan hidup di Amerika sebagai kelompok minoritas. Ini merupakan hal yang sangat menarik untuk didengar hingga akhirnya menarik orang-orang Latin yang juga minoritas untuk masuk Islam.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Muslim lainnya