Kiai Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus bercerita tentang dua kiai hebat, yakni Mbah Bisri Mustofa (ayahanda Gus Mus sendiri) dan adik ayahnya, Mbah Misbah Zainul Mustofa.
Gus Mus menjelaskan, keduanya adalah kiai yang ampuh, baik secara keilmuan lahir maupun 'suwuk' (keilmuan batin).
Keduanya juga menulis banyak karya dalam bahasa Jawa, meskipun mereka fasih berbahasa Arab, baik lisan atau tulis. Gus Mus mengisahkan, mereka sering berkirim surat, bahkan berpolemik, dalam bahasa Arab.
Sebagian surat-surat mereka itu masih disimpan dengan baik oleh Gus Mus. Mbah Bisri dan Mbah Misbah memang sering berbeda pendapat, meski mereka kakak-beradik. Mbah Bisri kiai modern, Mbah Misbah kiai galak.
Seperti dilansir dari website Laduni, dua kiai ini punya perbedaan dalam beberapa hal. Kiai Bisri, misalnya, cenderung rasional, kurang begitu suka pada ilmu kebatinan atau kanuragan. Meski khazanah ilmu hikmah yang dimiliki beliau cukup banyak.
Banyak ijazah suwuk yang diwedar oleh Kiai Bisri, termasuk melalui kitab-kitabnya yang memakai bahasa Jawa. Tetapi, secara umum, Kiai Bisri memang lebih cenderung rasional.
Sementara Kiai Misbah mempunyai watak yang berbeda sekali. Pak Bah, begitu Gus Mus biasa memanggil pamannya ini, justru punya kegemaran pada ilmu-ilmu hikmah, kanuragan.
Beliau, misalnya, memiliki pecut yang diberikan langsung Sunan Kalijaga. Dan ini menimbulkan keheranan pada Mbah Bisri, kakaknya.
"Lalu bagaimana ceritanya kok Sunan Kalijaga bisa memberikan pecut ke kamu?" tanya Kiai Bisri dengan nada skeptis. "Bagaimana kamu tahu jika dia itu benar-benar Sunan Kalijaga?"
"Lha iya, dia ngaku sendiri bernama Sunan Kalijaga," jawab Mbah Misbah enteng saja.
"Ini mesti ndak bener," protes Mbah Bisri. "Kalau betul Sunan Kalijaga, dia pasti akan menyebut dirinya Raden Said. Sebab itulah nama asli beliau. Sebutan Sunan Kalijaga itu datang belakangan setelah beliau wafat."