ALLAH SWT menciptakan kehidupan sedemikian kompleks, misalnya ada kaya dan ada yang miskin, kemudian ada yang kuat dan ada orang-orang lemah.
Dalam ajaran Islam, hamba Allah yang kaya diminta menolong yang miskin, dan yang kuat menolong orang-orang lemah. Patut juga diketahui bahwan Allah bersama orang-orang lemah.
Rasulullah SAW pernah berkisah bagaimana bentuk kasih Allah SWT kepada makhluknya yang lemah. Pada hari kiamat nanti, Allah akan berbincang dengan hamba-hamba-Nya.
Tibalah hari kiamat itu dan kepada salah satu hamba-Nya, Allah bertanya, “Wahai putra Adam. Dulu aku sakit, tetapi engkau tidak menjengukku.” Sang hamba heran. Bagaimana mungkin Tuhannya yang maha perkasa itu jatuh sakit? “Wahai Tuhanku. Bagaimana mungkin aku menjenguk di masa sakitmu, sedangkan Engkau adalah Tuhan segala semesta?”
“Wahai hamba-Ku. Tak tahukah engkau jika salah satu hamba-Ku sakit, tetapi kau enggan menjenguknya? Tak tahukah engkau, jika saja kau menjenguknya, kau akan menemukan-Ku di sampingnya?” Sang hamba terdiam. Barangkali ia sedang merenungi kesalahan-kesalahan masa lalunya.
“Wahai putra Adam,” Allah menegurnya kembali, “Aku meminta sesuap nasi darimu, tapi engkau tak memberikannya.” Sang hamba yang tak merasa begitu zalimnya ia kepada Tuhannya, kepalanya kini penuh tanda tanya. “Tuhanku,” ia mulai mengeluh, “Bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Tuhan segala semesta?”
“Apakah kau tak tahu, seorang hamba-Ku telah datang padamu dan meminta sesuap nasi, tapi kau tak mengindahkannya? Tak tahukah kau jika saja dirimu memberinya makan, tentu kau akan menemukan-Ku di sampingnya?”
Sang hamba Allah barangkali menggigil hebat kala Tuhannya menghakiminya kembali, “Kenapa kau tak memberi-Ku minum ketika Aku memintanya?” Sang hamba hanya bisa berpasrah. Ia luapkan permohonan maaf yang sama, “Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberimu minum sementara Engkau adalah Tuhan pemilik segalanya?”
“Telah datang padamu seorang hamba-Ku. Ia meminta minum padamu, tapi kau mengacuhkannya. Jika saja Engkau memberinya apa yang ia pinta, tentu kau akan menemukan-Ku bersamanya.”
Dengan kisah-kisah sederhana seperti inilah Rasulullah acapkali mengajarkan nilai-nilai hidup yang baik kepada para sahabatnya. Benar, kebaikan akan selalu bisa dilakukan dengan bentuk-bentuk paling sederhana sekalipun, seperti memberi minum kepada hewan, memberi makan kepada kawan yang membutuhkan, dan bentuk-bentuk kebaikan kecil yang lain.
Kebaikan-kebaikan seperti ini mungkin terlihat remeh di mata saat ini, tetapi pada waktunya nanti, saat hari kiamat tiba dan perhitungan amal di depan mata, insan akan menyesal bahwa kebaikan kecil yang dilewatkan itu adalah gunung harta yang berlipat ganda di sisi Tuhan.
Demikian dikutip dari laman Lirboyo pada Senin (2/3/2020) sebagaimana disarikan dari Hadis Qudsi.
(Abu Sahma Pane)