KESABARAN Nabi Zulkifli di atas rata-rata manusia biasa. Ia tak pernah sekalipun marah dan omongannya selalu dapat dipegang. Itu alasan Allah SWT mengangkatnya menjadi seorang nabi allaihi salam.
Nama asli Nabi Zulkifli adalah Basyar, ia terlahir dari keluarga nabi. Ayahnya adalah Nabi Ayub dan ibunya bernama Rahmah. Nabi Dzulkifli hidup dan besar di negara dengan raja yang sangat arif bijaksana.
Dikutip dari buku Kisah-Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Ali Nurfadhilah, sang raja jugalah yang memberikan nama Zulkifli kepada Basyar yang artinya sanggup.
Hal ini terjadi karena suatu ketika sang raja mengumumkan sayembara, 'Siapa yang sanggup berlaku sabar? Jika malam mendirikan solat dan jika siang melakukan puasa?'. Tak ada satu orang pun awalnya yang menyanggupi permintaan raja itu.
Sampai akhirnya Basyar mengacungkan tangan tanda menyanggupi apa yang diinginkan sang raja. Akhirnya anak muda bernama Basyar itu diberikan nama Zulkifli yang artinya sanggup.
Singkat cerita, berkat ketekunan dan kesabaran Nabi Zulkifli, ia pun ditunjuk menggantikan sang raja. Kebiasaannya sejak muda terus ia lakukan sampai ia menjadi raja: malam mendirikan sholat dan siang puasa. Tak hanya jadi raja, Nabi Zulkifli pun diangkat menjadi ketua hakim di negara tersebut.
Saking sibuknya, tidur Nabi Zulkifli cuma sebentar. Ia istirahat beberapa waktu sekadar memejamkan mata. Mengetahui hal ini, setan pun mengganggunya.
Ya, setan berpura-pura menjadi orangtua yang tak punya sanak saudara dan tempat tinggal. Setan mencoba menggoyahkan kesabaran Nabi Zulkifli.
"Ada apakah saudara datang kemari?" tanya Zulkifli kepada setan yang sedang menyamar pada malam. Setan pun menjawab, "Hamba musafir, barang-barang kepunyaan hamba dirampok orang di jalan."
Mengetahui hal itu, Nabi Zulkifli meminta agar orangtua yang aslinya setan ini datang ke kerajaan besok pagi atau petang. "Datanglah engkau esok pagi atau petang hari," ucap Nabi Zulkifli iba.
Esok harinya, orangtua tersebut tak datang mengunjungi kerajaan, pun saat petang tiba. Nabi Zulkifli padahal sudah meluangkan waktu untuk bisa membantu orangtua tersebut.
Meski begitu Nabi Zulkifli tak pernah merasa kesal dan ia tetap sabar dan tak pernah marah kepada tamunya itu.