Belajar Komunikasi (Lagi) dari Nabi Ibrahim

, Jurnalis
Rabu 29 April 2020 20:15 WIB
Ilustrasi Kisah Para Nabi (Foto: Shutterstock)
Share :

Pembaca yang keren dan baik hati. Hari ini kita masih membahas bagaimana komunikasi Nabi Ibrahim dengan ayahnya yang tercatat dalam Alquran.

Suatu ketika Nabi Ibrahim mengatakan kepada ayahnya, wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (Maryam 19:42).

Nabi Ibrahim pun mengatakan, wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus (Maryam 19:43).

Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah (Maryam 19:44). Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan (Maryam 19:45).

Begitulah tugas utama para Nabi, mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT. Komunikasi persuasif dilakukannya dengan penuh dedikasi, penuh harap akan ridha Allah Yang Maha Besar. Tidak pernah ia berputus asa dalam berdakwah. Meski banyak rintangan dan ujian yang harus dihadapinya. Tentu ini tidaklah mudah. Seperti kisah Nabi Ibrahim ini.

(Baca Juga: Hidayah di Bulan Ramadhan, Aktris Cantik Ini Resmi Jadi Mualaf)

Maka kemudian ayahnya menjawab. Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti (berdakwah), maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama (Maryam 19:46).

Bukan hanya jawaban ayahnya yang menolak ajakan Nabi Ibrahim, yang membuatnya sedih. Bahkan ayahnya pun mengancamnya dan meminta anaknya untuk meninggalkannya dalam waktu yang lama. Ini merupakan jawaban yang tidak dikehendaki oleh siapa pun, terlebih seorang anak yang sayang terhadap ayahnya.

Nabi Ibrahim harus menerima kenyataan. Komunikasi yang baik dengan mengajak ayahnya untuk beribadah hanya kepada Allah SWT ditolak mentah-mentah. Selain itu ia juga akan dirajam. Nabi Ibrahim pun diusir oleh ayahnya sendiri. Yang akhirnya memisahkan antara seorang ayah dan anaknya.

Tapi bukan Nabi Ibrahim namanya, jika ia kemudian berkomunikasi dengan tidak baik. Nabi Ibrahim ingin mengajarkan kepada kita bahwa apa pun yang mereka sampaikan kepada kita, terlebih hal buruk, harus disikapi dengan hal-hal yang baik. Mari kita simak apa jawaban Nabi Ibrahim untuk ayahnya.

(Baca Juga : Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Bakal Segera Dibuka)

Nabi Ibrahim mengatakan, (salamun alaikum) semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Maryam 19:47)

Kita bisa menyimak bagaimana komunikasi yang baik yang dilakukan Nabi Ibrahim. Bahkan setelah ditolak, hendak dirajam, dan diusir pun oleh ayahnya, Nabi Ibrahim tetap berkomunikasi dan mendoakan yang baik untuk orang yang menolaknya itu. Salamun alaikum. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu. Luar biasa. Hati Nabi Ibrahim seakan-akan seluas langit biru yang membentang tanpa batas.

Setelah Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Allah pun kemudian memberikan anugerah yang tiada tara kepada Nabi Ibrahim. Yaitu Ishak dan Yakub. Yang kemudian hari mereka pun diangkat menjadi Nabi (Maryam 19:49).

Begitulah. Jika komunikasi yang baik dibangun, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik. Memang terlihat penolakan di awal, tapi hadiah dari Allah lah yang sempurna. Sebab itu tugas manusia pilihan hanya untuk mengajak kepada kebaikan. Sisanya, atau hasilnya, serahkan kepada ahlinya, yaitu Allah Yang Maha Baik.

(Baca Juga : Belajar Komunikasi dari Nabi Ibrahim)

Pelajaran utama yang mungkin kita bisa ambil adalah bahwa kepada orang tua kita harus tetap hormat dan berbuat baik. Meski mereka tidak melakukan hal yang sama. Ini menjadi sebuah pegangan untuk kita untuk berbuat baik kepada siapa pun telebih kepada orang yang lebih tua dari kita.

Lantas, bagaimana komunikasi Nabi Ibrahim dengan anaknya? (Bersambung)

Oleh: Deden Mauli Darajat

Penulis adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya