Mudik yang Sejati

, Jurnalis
Kamis 30 April 2020 01:01 WIB
Share :

Ramadan tahun ini istimewa karena tidak biasa: tanpa syiar, tanpa bazar, tanpa ritual mudik kolosal. Kita jalani Ramadan tahun ini di bilik-bilik kesunyian. Inilah pelajaran terbesar dari Ramadan tahun ini di tengah wabah Covid-19.

Pada akhirnya hanya kita dan Allah. Kita tersungkur di hadapan kuasa-Nya, tidak berdaya. Inilah kesempatan emas untuk merunduk melepas congkak. Pada akhirnya kita adalah butiran debu. Kita mulia karena dimuliakan Allah. Kita berdaya karena diberi daya oleh Allah. Keangkuhan manusia leleh sekejap oleh makhluk Allah tak kasat mata, oleh virus yang belum ditemukan obatnya.

Ramadan tahun ini adalah kesempatan terbaik untuk kembali kepada-Nya. Allah tidak kita sapa melalui pintu-pintu masjid, toa pengeras suara bilal, dan mimbar-mimbar penceramah agama. Allah kita sapa dalam keheningan, dalam kelemahan dan rintihan ketidakberdayaan. Rumah-Nya bukan hanya masjid. Hati kita adalah rumah-Nya. Dia bersemayam di kesunyian hati manusia. Dia lebih dekat daripada urat leher manusia (QS. Qâf/50: 16).

Covid-19 adalah cara Allah mengajari kita untuk puasa hakikat. Bukan hanya kerongkongan, perut, dan kelamin kita yang puasa. Mulut kita juga, seperti puasanya Maryam (QS. Maryam/19: 26). Kaki dan tangan kita juga. Telinga kita juga. Seluruh jasad kita dirohanikan untuk kembali kepada-Nya dengan menjauhi maksiat. Di bilik rumah kita yang sunyi, kita punya kesempatan untuk memunggungi dunia dan segala pesonanya.

Jika kita menutup jasad kita dari dunia, Allah akan menyingkap kalbu kita dengan cahaya-Nya. Jika kita istirahatkan mata, telinga, mulut, perut, kaki, dan tangan kita dari dunia, Allah akan menyibukkan hati kita bersama-Nya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya