Ledekan kita menjelma dalam bentuk ketidakyakinan kita sendiri kepada Allah bahwa Allah yang telah menyiapkan segala urusan kita, memelihara hidup dan perangkat hidup kita. Kita sering tak yakin pada masa depan, memenuhinya dengan segala kerisauan dan kecemasan. Makan apa besok hari, kerja apa pekan depan, dapat uang dari mana bulan depan, ke mana bersekolah tahun depan, dari mana membayar cicilan berbulan-bulan ke depan?
Ledekan kita menjelma dalam bentuk mispersepsi terhadap harta dan segala isi dunia yang kita genggam. Kita mengira bahwa harta kita adalah nominal yang kita simpan di bank, lembaran uang kita selipkan di dompet dan saku, investasi yang dititipkan di perusahaan dan pasar modal, kendaraan yang kita kemudikan di jalan-jalan besar, rumah yang kita bangun melebar dan menjulang, hasil dagang yang kita upayakan siang dan malam, atau aliran gaji yang kita terima setiap awal bulan.
Kita ragu pada apa yang kita keluarkan di jalan Allah – dan menganggapnya akan hilang belaka tak berbekas. Padahal, itulah harta yang sesungguhnya.
Ledekan kita menjelma kesombongan kita untuk menghadapi pelik dunia ini sendirian. Di kepala kita berhimpun ribuan teori, resultan bacaan dari buku dalam dan luar negeri, deretan gelar dari sekolah dasar hingga universitas. Di tangan dan kaki kita tersusun keterampilan yang kita asah sejak kecil, skill yang makin hari kita anggap makin mahir. Di sekeliling kita berkumpul para pakar, para cendekia, para ilmuwan, para pesohor, para follower yang kita anggap cukup untuk menemani kita menghadapi segala permasalahan hidup personal, masyarakat, bahkan negara.
Ledekan kita menjelma ketidakmengertian kita pada definisi fakir. Kita sekadar menganggapnya sebagai garis batas – angka penghasilan yang tak memenuhi kecukupan satu koma sembilan dolar per hari per kepala. Kita menyangkanya sebagai ketidakberdayaan pemenuhan kebutuhan pokok belaka. Kita mengiranya sebagai ketidaksanggupan finansial sehingga diidentifikasi lewat besaran pinjaman, hutang, dan tergerusnya kepemilikan properti.
Ledekan kita menjelma sepinya doa dan harapan kepada Allah. Mengira bahwa kita baik-baik saja tanpaNya. Kita kerap lupa bahwa kita pernah disapa: yaa ayyuhannasu antumul fuqaraa-u ilallah. Kita ini fakir sefakir-fakirnya, tak pernah kaya di hadapan Allah. Tidak pernah lolos dari jurang kemiskinan dalam standar dan kriteria susunan Allah. Tidak pernah berhasil keluar dari bencana katastrofik takdir yang tak pernah dapat pula kita duga-duga kapan datang dan perginya.