PANDEMI virus corona (COVID-19) di Indonesia, membuat pemerintah membatasi kegiatan keagamaan, termasuk tempat ibadah seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Akibatnya, banyak masjid ditutup, sholat berjamaah ditiadakan serta majelis-majelis pengajian untuk sementara vakum. Hal ini berdampak langsung terhadap penghidupan para marbot atau pengurus masjid serta imam sholat rawatib.
Seperti yang diutarakan Nanang (31) asal Ciamis, Jawa Barat. Muadzin, marbot sekaligus imam sholat rawatib di Masjid Said Na’um, Kebon Kacang, Jakarta Pusat ini mengaku pendapatannya berkurang drastis akibat adanya virus corona ini.
“Saya menerima gaji pokok Rp2 juta perbulan dan juga dapat tambahan dari jamaah masjid,”ujarnya seperti dikutip dari BBC News Indonesia, Jumat (15/5/2020).
Pendapatannya itu dia sisihkan setiap bulan untuk orangtua dan keluarganya di kampung. Namun selama masa pandemi ini, Nanang harus memutar otak untuk memenuhi keluarganya. Karena masjid tempat dia bekerja ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Wilayah Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat merupakan zona merah COVID-19. Sebanyak 20 orang dinyatakan positif COVID-19 di sekitar masjid tempat Nanang bekerja.
“Kita pasrah sama Allah, namanya sudah bencana kita disarankan menjauh bukan karena kita takut, tapi disyariatkan seperti itu. Mudah-mudahan Allah mengangkat wabah ini dan menjadi pahala bagi mereka yang terkena musibah. Masalah penghasilan saya biar Allah yang mencukupinya di akhirat,” pungkasnya.
Hal senada juga diutarakan Mardani, marbot Masjid Jami At-taubah, Pancoran Barat, Jakarta Selatan. Pria yang sudah berprofesi sebagai marbot selama 16 tahun ini mengaku pendapatannya berkurang jauh akibat pandemi.
"Ya otomatis berkurang, karena banyak pekerja yang di PHK dan juga banyak warga yang penghasilannya berkurang. Di masjid juga sama seperti itu juga,” ujar Mardani.
Pria 52 tahun ini menuturkan, dalam seminggu dia biasanya menerima upah sebagai marbot masjid sekitar Rp400 ribu. Nominal tersebut belum ditambah sumbangan dari jamaah masjid tarawih yang cukup untuk membiayai istri dan empat orang anaknya.
“Uang segitu saya bisa menafkahi empat anak dan istri. Namun sekarang agak sulit karena sholat tarawih ditiadakan. Ramadhan tahun ini juga menurut saya adalah yang terberat, namun kita bersyukur saja dikasih seperti ini,” tutupnya.
(Fahmi Firdaus )