Tausyiah Ramadhan: Sunnah yang Buruk

, Jurnalis
Sabtu 16 Mei 2020 17:01 WIB
Share :

Kita juga kerap mendefinisikan sunnah sebatas hadits dalam qauliy, fi’liy, dan taqriry-nya Rasulullah. Sunnah Nabawiyah. Sehingga ketika tak ada bukti pada tiga hal tersebut, atau bahkan buktinya dianggap tak sahih, dhaif dan lemah, kita menghadap-hadapkan terma sunnah dengan bid’ah belaka.

Kita memahami fikih dalam spektrum pendekatan yang begitu lebar. Pada dasarnya, fikih adalah pondasi substantif dalam hidup kita. Fikih dan kaidah-kaidah asalnya semestinya menuntun kecintaan vertikal kepada Allah. Tetapi, upaya kita seringkali menuntun kepada sisi yang teramat fikih, sehingga ia berubah menjadi jeratan yang teramat kaku.

Kita tidak lagi memahami perbedaan – dengan basis yang rasional dan mendasar – sebagai anugerah. Padahal, kita masih punya keleluasaan untuk sekadar mengatakan begini: yang ini sunnah menurut A, tapi bukan sunnah menurut B.

Sanna bisunnatin hasanatin dan sanna bisunnatin sayyiatin ini membawa kita ke akar terminologi sunnah itu sendiri: at thariiqal muttaba’ah was siiratil mustamirrah. Jalan yang diikuti dan sejarah yang terus langgeng.

Pada konteks lain, kita mendapati terminologi sunnatullah, sunnahNya Allah – yang dengan keterbatasan diksi yang kita miliki, kita menyebutnya sebagai hukum alam‘. Matahari terbit dari timur, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, bahkan pada algoritma-algoritma kehidupan: yang belajar akan pandai, yang bekerja kaya akan sukses, yang menghimpun uang akan kaya.

Sunnah – dalam skala pendekatan yang lebih lapang – adalah juga kebiasaan, tradisi, turun temurun perilaku. Kaanat hasanatan am sayyi-atan. Bisa jadi sunnah itu baik, bisa jadi sunnah itu buruk. Pilihan itu ada pada diri kita.

Bagaimana kita menjadi contoh bagi pasangan dan anak-anak di rumah, menjadi model di lingkungan kerja dan masyarakat, menjadi pandu di ruang politik, organisasi, dan kenegaraan. Apa yang kita tabur dalam perilaku keseharian kita bukan hanya akan jadi bahan tontonan bagi orang lain. Setiap gerak sendi dan ucap lisan kita memiliki segala potensi untuk menular, menginfeksi, viral, dan diikuti oleh orang lain.

Zaman semakin melesat. Apa yang kita lakukan dan unggah ke media sosial dapat ditiru sekian miliar orang dalam sekejap, hingga ke pelosok yang letaknya pun tak pernah kita tahu. Jika yang kita pertontonkan itu kebaikan, rekening amal kita perlahan penuh dengan kebaikan yang mengalir.

Oleh : dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. Penulis buku “Negeri Sukun: Kelakar Sang Kiai untuk Negeri”

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya