Corona Mewabah, Mahasiswa Indonesia di Amerika Gelar Pengajian Daring

, Jurnalis
Selasa 19 Mei 2020 13:10 WIB
Pertemuan virtual Indonesian Muslim Youth in America (IMYA). (Foto: Dok Irwan Saputra/Istimewa/VOA)
Share :

PENGAJIAN dan buka puasa bersama adalah beberapa kegiatan yang biasa dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat di bulan suci Ramadhan. Namun di tengah pandemi corona virus disease (covid-19), aktivitas tersebut tidak mungkin dilakukan, sebab adanya pembatasan sosial.

Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Irwan Saputra yang baru saja mengikuti wisuda secara daring (online) setelah menyelesaikan program pascasarjana Jurusan Manajemen Komunikasi di George Washington University, Washington DC.

Baca juga: Pandemi Corona, Muslim Amerika Gagas Diskusi Virtual Peduli Lingkungan 

"Iya ini kan Ramadhan kedua saya di Amerika Serikat dan kondisinya jauh banget. Ramadhan kemarin saja sudah rasanya sedih, sepi, karena jauh dari keluarga dan enggak ada kemeriahan seperti di Indonesia," kenang Irwan, seperti dikutip dari VOA, Selasa (19/5/2020).

"Apalagi kali ini dengan kondisi pandemi covid-19. Suasananya sunyi, sepi, jadi enggak bisa keluar untuk belanja untuk masak-masak makanan khusus bulan Ramadhan. Jadi kita jalani Ramadhan di rumah saja, enggak keluar, cuma untuk belanja," tambahnya.

Saat ini Irwan tergabung di organisasi Indonesian Muslim Youth in America yang beranggota sekira 25 mahasiswa dan pemuda di wilayah Washington DC.

Beberapa kegiatannya yakni pengajian rutin setiap dua minggu sekali, serta kunjungan ke masjid-masjid yang ada di daerah Washington DC, sambil diselipkan ceramah.

Baca juga: Masjid Raya Paris: Penghormatan untuk 100 Ribu Pejuang Muslim 

Namun untuk bulan suci Ramadhan kali ini, kegiatan tersebut harus disesuaikan dengan anjuran pembatasan sosial.

"Iya kita tetap mengadakan pengajian rutin dua minggu sekali, tapi kita adapt-kan online. Rencana kita sebelumnya padahal kita ingin buka puasa bersama dan lain-lain, itu sudah enggak mungkin dilaksanakan," ungkapnya.

Sebagai mahasiswa di Amerika Serikat, Irwan sering mengikuti kegiatan yang diadakan oleh organisasi kampus, Muslim Students’ Association atau MSA, termasuk kegiatan di bulan suci Ramadhan tahun lalu, seperti buka puasa bersama dan pengajian. Selain pengajian daring, untuk tahun ini MSA mengadakan kegiatan menarik di media sosial.

"Di Instagram itu mereka buat 'Share Your IFTAR' gitu. Jadi kita foto iftar kita dan berbagi gitu, maksudnya berbagi gambar dengan budaya masing-masing, iftar itu seperti apa," jelas Irwan.

Baca juga: Sholat Idul Fitri di Rumah & Bermaafan via Medsos demi Keselamatan Bersama 

Selain kegiatan ibadah Ramadhan, baru-baru ini Satgas Covid-19 Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat atau Permias di tingkat nasional mengadakan acara bincang kesehatan bertajuk 'Sehat dan Bugar Selama dan Setelah Ramadhan' yang ditujukan kepada pelajar serta masyarakat Indonesia di Negeri Paman Sam.

Acara yang dilakukan melalui aplikasi pertemuan virtual ini menghadirkan dr Gaga Irawan Nugraha, seorang dokter spesialis gizi klinik staf pengajar Fakultas Universitas Padjajaran, Bandung.

Mahasiswi S-2 Jurusan Kesehatan Publik di Columbia University di New York, Denita Utami, yang juga anggota Satgas Covid-19 Permias Nasional Koordinator bidang promosi kesehatan, menjadi moderator untuk acara tersebut.

"Jadi dengan banyaknya informasi seputar covid-19, kami ingin masyarakat juga tetap memerhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya, terutama terkait gizi atau nutrisi dan aktivitas fisik pada saat puasa Ramadhan dan juga setelah puasa Ramadhan ini berakhir," jelas perempuan yang berprofesi sebagai dokter umum di Indonesia ini.

Baca juga: MUI Jateng Imbau Umat Islam Salat Idul Fitri di Rumah 

Satu tantangan yang dihadapi oleh Denita dan tim penyelenggara adalah perbedaan waktu antara Amerika Serikat dan Indonesia, mengingat narasumbernya kali ini berdomisili di Tanah Air.

"Karena di (AS) orang-orang mau mempersiapkan berbuka puasa, di Indonesia justru mereka baru selesai sahur. Jadi tantangan terbesarnya adalah untuk mempersiapkan waktunya agar pas di Amerika Serikat dan juga di Indonesia," ujar mahasiswi yang baru pindah ke AS pada Agustus 2019 itu.

Acara ini mendapat tanggapan yang positif dan topik yang diangkat dianggap cukup menyegarkan, karena topiknya lebih umum, mudah dicerna, dan terasa lebih ringan.

Menurut Denita, ajang yang satu ini tidak hanya menjadi tempat untuk menambah pengetahuan di bidang kesehatan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa di berbagai penjuru.

Baca juga: YouTuber Arab Bakal Pecahkan Rekor Dunia Buka Puasa Bersama 

"Karena dilakukan secara online, ini juga merupakan kesempatan bagi teman-teman dari Permias untuk berkumpul, dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat, dan juga teman-teman dari negara lain di PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dunia. Untuk bisa berkumpul tanpa harus hadir langsung secara fisik," tambahnya.

Tahun ini merupakan pertama kalinya bagi Denita menjalankan ibadah puasa di Amerika Serikat. "Aku alhamdulillah lancar, karena kuliah online dan dari rumah, jadi engga terasa capek, walaupun lebih lama dari di Indonesia," katanya.

Baca juga: Zakat Boleh Dilebihkan dan Tanpa Ijab Kabul Secara Fisik 

Memang kini suasananya berbeda. Namun, walau tidak bisa berbuka puasa bersama dan beribadah bersama teman-teman di bulan Ramadan, lewat pertemuan secara daring, para mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat masih tetap bisa menjalin komunikasi dan berbagi cerita serta ilmu dari rumah masing-masing.

(Hantoro)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya