Tentang Sungkeman Online di Masa Pandemi Corona

, Jurnalis
Minggu 24 Mei 2020 00:07 WIB
Ilustrasi sungkeman seorang anak kepada ibunya (Foto: Bramantyo/Okezone)
Share :

Sungkeman merupakan proses spiritual sang anak seolah menyerahkan sepenuh jiwa raga demi mendapatkan keikhlasan restu untuk mengarungi lautan kehidupan. Hanya dengan bekal keridhoan orang tua itulah si anak meyakini menjadikan bekal kita untuk keselamatan dunia akhirat.

Seperti syair yang dikarang oleh Bang Haji Rhoma Irama “Tiada keramat di dunia yang ampuh di dunia, selain dari doa ibumu jua”. Sepotong lirik dari lagu “Keramat” yang sarat akan nilai filosofis. Maka tidak heran jika di kalangan pesantren ibu ini seringkali diibaratkan sebagai “jimat” yang harus dijaga jika kita ingin selamat di dunia maupun di akhirat.

Sungkeman ini bisa dimaknai sebagai suatu ritual peleburan atau pengakuan dosa kepada kedua orangtua, terkhusus kepada ibu. Bagi saya pribadi sungkeman di hari raya idul fitri memiliki banyak dimensi yang bisa ditafsirkan.

Pertama, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada orang tua yang telah ikhlas merawat dan mendidik kita hingga dewasa. Jasa itu tak mungkin bisa terbayar dengan apapun dan sampai kapanpun. Kedua sebagai upaya mencari keridhoan orang tua, sebagai mana Islam mengajarkan bahwa ridho Allah Subhanahu wata’ala ada pada ridho orang tua.

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rosulullah Saw. bersabda: “Keridhoan Allah itu di dalam keridhoan orang tua dan kemarahan Allah itu di dalam kemarahan kedua orang tua.” (HR. al-Tirmidzi).

Islam sendiri menganjurkan kepada setiap umat Islam yang beriman agar senantiasa baik budinya, termasuk berbudi luhur pada orang tuanya. Rasulullah bersabda: Berbudilah dengan akhlak yang baik kepada sesama (HR. Al Tirmidzi). Sayyidina Alli juga mengajarkan "Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan (Syeikh Nawawi al bantani, Syarh Sullam Taufiq, halaman.61.).

Masih banyak basis rujukan fikih dari tradisi Sungkeman yang kerap dilakukan saat Bulan Syawal tiba. Sayang bagi anak rantau yang berada di luar kota tradisi sungkeman pada tahun 2020 ini, tidak akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak bisa duduk bersimpuh di hadapan ibu lantaran sebagai anak rantau harus mengurungkan niat mudik demi kebaikan bersama.

Saya meyakini, setiap anak akan tetap menjalankan sungkeman, meskipun dengan saluran media online. Banyak cara yang bisa dilaukan melebur dosa memaafkan khilaf, menjemput ridho Allah yang ada dalam kebahagiaan batin orang tua kita.

Seiring berkembangnya zaman, kendala proses permohonan maaf yang biasanya dilakukan dengan bersimpuh, kali ini karena imbas Covid-19, kita semua melakukan ikrar saling melebur khilaf dengan video call. Jika biasanya saat sungkeman langsung bercucur air mata, kali ini mungkin kita akan meneteskan air mata dengan jarak yang terpaut jauh.

Kita semua mahfum hal ini sangat sulit dan menyesakkan dada. Tapi dengan keyakinan Iman bahwa ada rahasia Allah atas penciptaan makhluk yang maha kecil Corona akan memberikan suatu hikmah pembelajaran hidup yang akan bermanfaat untuk kelangsungan makhluk hidup di muka bumi ini.

Harus diakui, rasanya pasti akan sangat berbeda, namun inilah pilihan terbaik yang bisa dilakukan seraya kita berdoa supaya kondisi bisa lekas membaik. Kondisi tanpa ada pandemi Covid-19 yang telah mengubah sistem kehidupan bermasyarakat dan budaya kita. Wallahu’alam bishhowab.

Oleh : Agus Fuad

Penulis asal Jombang. Pernah mengenyam pendidikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Lulusan Universitas Indonesia. Semasa kuliah aktif di beberapa kegiatan seperti riset, sosial dan aktivis mahasiswa. Pernah menjabat Ketua BEM FIB UI 2016. Saat ini menjabat sebagai Wasekjen PB PMII. Selain itu juga aktif dibidang gerakan santri usahawan dengan mendirikan prototipe bisnis Kopi Abah

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya