Ramadhan sudah berakhir. Selama satu bulan umat Islam mengisi bulan penuh berkah ini dengan ketulusan beribadah kepada-Nya. Dari ibadah yang tulus, maka akan mencetak manusia-manusia dewasa secara spiritual.
Di Bulan Suci ini, umat Islam diberikan kesempatan untuk berkontemplasi menemukan misi hidup yang sesungguhnya. Salah satunya dengan meneladani kisah Nabi Muhammad SAW yang sering diulas dalam setiap ceramah di bulan Ramadhan.
Rasulullah adalah sosok yang seluruh gerak dan langkahnya adalah kisah luhur yang tiada habis terkikis dan menjadi inspirasi bahkan menjadi hukum ibadah umat Islam. Meskipun demikian ada yang belum kita sadari: percobaan kita untuk menautkan kisah luhur Rasulullah sebagai inspirator pencarian misi hidup.
Sebuah pencarian dari kisah-kisah luhur Rasulullah yang menjadi titik spiritual dengan menggalinya sehingga mampu menjadi pelita dalam pencarian yang berakhir kepada kecintaan kepada Illahi.
Gerbner mengatakan “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayai”. Jack Canfield dalam serial buku Chicken Soup yang memukau dan penuh dengan kisah-kisah yang menyentuh hati mampu menggerakkan remaja, orang dewasa, orang tua untuk meneruskan hidup mereka yang sempat “koma” karena: patah hati, sakit kanker, jantung, juga persahabatan yang goyah, keluarga berantakan dll dan kesemua cerita tersebut tak akan habis digali.
Oleh karena itu, jangan sepelekan cerita. Dalam Al-Qur’an pun cerita-cerita memberi hikmah yang luhur. Juga kisah Rasulullah SAW bagi umat Islam adalah sebuah ikon i’tiba, untuk gerak langkah dan ibadah. Dalam al-Qur’an dikatakan
“Dia yang mengutus pada umat yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka (dari kekafiran dan kelakuan yang tidak baik) dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah: 2)
Inti dari kisah Nabi Muhammad SAW adalah keteladanan. Sering kita dengar kisah-kisah Nabi Muhammad SAW baik waktu kita kecil sewaktu di masjid, salat Jum’at pengajian atau waktu kita mengobrol dengan sahabat.
Namun ada hal yang kurang dari diri kita, mengapa sekarang kisah-kisah agung Muhammad SAW jarang dijadikan suri tauladan dalam kehidupan kita. Sedangkan kisah-kisah inilah yang menggerakkan tabiin ataupun tabiin-tabiin menjadi inspirasi sebagai sebuah agama yang mampu menancapkan pancang kebesarannya.
Salah satu sebabnya menurut penulis, pertama kita kurang meresapi apa yang telah diceritakan, yang kedua kisah-kisah tersebut terlalu sering diceritakan kepada kita sehingga kita mendengar cerita-cerita agung Muhammad SAW dengan abai. Sebenarnya kebosanan kita disebabkan karena kisah-kisah yang diceritakan oleh da’i, khatib, muballigh hanya itu-itu saja dan kurang menautkan kisah-kisah tersebut dengan diri pendengar, sehingga relevasi pada kehidupan kita sangat kurang.