Muhidin berharap, gerakan semacam ini dapat diteruskan, supaya semangat toleransi makin terasa di masyarakat akar rumput.
“Karena kalau membangun bangsa ini kan urusan bersama, bukan urusan satu agama, bukan urusan satu golongan, maka kita harus bisa saling berbaur, bersatu, untuk bisa melakukan tugas-tugas kemanusiaan ini,” tuntasnya.
Jaringan lintas agama ini terdiri atas 20 organisasi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, Baha’i, dan sejumlah komunitas pemuda, yang telah lama bekerja dalam isu toleransi dan perdamaian. Mereka adalah Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Pemuda Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Command Center, NU Peduli, GP Ansor, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), GEMABUDHI, PERMABUDHI, MBI-KBI, serta Komisi HAK KWI.
Selain itu, ada pula JKMC, BAKKAT, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Puskor Hindunesia, Majelis Tinggi Agama Konghucu (MATAKIN), Majelis Rohani Nasional Bahai Indonesia, Yayasan Sosial Guru Nanak, Temu Kebangsaan Orang Muda, Jaringan Gusdurian, dan Kafkaf Foundation.
(Rizka Diputra)